http://ideberita21.blogspot.com/2013/11/cara-memaparkan-hanya-tajuk-posting.html
Selasa, 26 Agustus 2014
Sabtu, 31 Mei 2014
“INDUSTRI DAN LINGKUNGAN HIDUP
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT
dengan rahmat dan karunianya penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “INDUSTRI DAN LINGKUNGAN HIDUP” Selawat beriring salam penulis kirimkan
kepada junjungan Alam Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau
sekalian.
Dalam penyelesaian
penulisan makalah ini, penulis mendapat
bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya.
Segala usaha telah
dilakukan untuk menyempurnakan makalah
ini. Namun penulis menyadari bahwa dalam makalah ini mungkin masih ditemukan kekurangan dan
kekhilafan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat
dijadikan masukan guna perbaikan di masa yang akan datang.
Meureudu, Mei
2014
Penulis
intan purnamasari
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pengalaman
beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai
teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core
industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya
distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat
teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara
pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi konsumen dan
ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan
suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju. Alasan
umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi
(iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John
Naisbitt yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi
dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini
didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari
satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.
Disamping
itu, iptek dan teknologi dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer,
menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang
dilakukan untuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam
kehidupannya sehari-hari.
Selain
itu, terdapat juga indikasi yang memperlihatkan tidak terkendalinya polusi dan
pencemaran lingkungan akibat banyak zat-zat buangan dan limbah industri dan
rumah tangga yang memperlihatkan ketidak-perdulian terhadap lingkungan hidup.
Akibat-akibat dari ketidak-perdulian terhadap lingkungan ini tentu saja sangat
merugikan manusia, yang dapat mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Oleh
karena itu, masalah pencemaran
lingkungan baik oleh karena industri maupun konsumsi manusia, memerlukan suatu
pola sikap yang dapat dijadikan sebagai modal dalam mengelola dan menyiasati
permasalahan lingkungan.
Itikad
penanganan dan pemecahan masalah lingkungan telah ditunjukkan oleh pemerintah
melalui Kantor Menteri Lingkungan Hidup yang mempersyaratkan seluruh bentuk
kegiatan industri harus memenuhi ketentuan Amdal dan menata hasil buangan
industri baik dalam bentuk padat, cair maupun gas. Disamping itu, berbagai seruan
dan ajakan telah disampaikan kepada konsumen dan rumah tangga pengguna produk
industri yang buangannya tidak dapat diperbaharui ataupun didaur ulang.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah
diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.
Bagaimana industri terhadap lingkungan hidup ?
2.
Bagaimana upaya-upaya penyelesaiannya
industri terhadap lingkungan hidup ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep-Konsep
Untuk Memahami Masalah Lingkungan Dan Industri
Seringkali ditemukan pernyataan yang
menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang
bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk
hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal
balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi. Lingkungan
hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya.
keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya,
yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia
serta makhluk hidup lainnya.
Dari
definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang
selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan
kebutuhan pangan, papan dan lain-lain.
Dan,
manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya
dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi
kebutuhan hidupnya.
Di alam terdapat
berbagai sumber daya alam yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya
berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas :
-
Sumber daya alam yang dapat
diperbaharui (renewable natural resources)
-
Sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui (non-renewable natural resources)
Berbagai
sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku yang beragam tersebut saling
berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan kepentingannya
maka sumber daya alam dapat dibagi atas; (a). fisiokimia seperti air, udara,
tanah, dan sebagainya, (2). biologi, seperti fauna, flora, habitat, dan
sebagainya, dan (3). sosial ekonomi seperti pendapatan, kesehatan,
adat-istiadat, agama, dan lain-lain.
Interaksi
dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan
menentukan kelangsungan siklus ekosistem, yang didalamnya didapati proses
pergerakan energi dan hara (material) dalam suatu sistem yang menandai adanya
habitat, proses adaptasi dan evolusi.
Dalam
memanipulasi lingkungan hidupnya, maka manusia harus mampu mengenali sifat
lingkungan hidup yang ditentukan oleh macam-macam faktor. Berkaitan dengan
pernyataan ini, Soemarwoto (1991: 50-51) mengkategorikan sifat lingkungan hidup
atas dasar:
(1)
Jenis dan jumlah masing-masing jenis
unsur lingkungan hidup tersebut
(2)
Hubungan atau interaksi antara unsur
dalam lingkungan hidup tersebut
(3)
Kelakuan atau kondisi unsur lingkungan
hidup
(4)
Faktor-faktor non-materiil, seperti
cahaya dan kebisingan
Manusia
berinteraksi dengan lingkungan hidupnya, yang dapat mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya, membentuk dan dibentuk oleh lingkungan
hidupnya. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler, berarti
jika terjadi perubahan pada lingkungan hidupnya maka manusia akan terpengaruh.
Uraian
ini dapat menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran
lingkungan, terutama terhadap kesehatan dan mutu hidup manusia. Misalnya,
akibat polusi asap kendaraan atau cerobong industri, udara yang dipergunakan
untuk bernafas oleh manusia yang tinggal di lingkungan itu akan tercemar oleh
gas CO (karbon monoksida). Berkaitan dengan paparan ini, perlakuan manusia
terhadap lingkungan akan mempengaruhi mutu lingkungan hidupnya.
Konsep
mutu lingkungan berbeda bagi tiap orang yang mengartikan dan mempersepsikannya.
Soemarwoto (1991: 53) secara sederhana menerjemahkan bahwa mutu lingkungan
hidup diukur dari kerasannya manusia yang tinggal di lingkungan tersebut, yang
diakibatkan oleh terjaminnya perolehan rezeki, iklim dan faktor alamiah lainnya
yang sesuai.
Batasan
ini terasa sempit, bila dikaitkan dengan pengaruh elemen lingkungan yang
sifatnya tidak dikenali dan dirasakan, misalnya dampak radiasi baik yang
disebabkan oleh sinar ultraviolet atau limbah nuklir, yang bersifat merugikan
bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.
B. Industri Dan Pencemaran Lingkungan
Jika
kita ingin menyelamatkan lingkungan hidup, maka perlu adanya itikad yang kuat
dan kesamaan persepsi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan
lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara
atau memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar kita dapat terpenuhi
dengan sebaik-baiknya.
Memang
manusia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya, secara
hayati ataupun kultural, misalnya manusia dapat menggunakan air yang tercemar
dengan rekayasa teknologi (daur ulang) berupa salinisasi, bahkan produknya
dapat menjadi komoditas ekonomi. Tetapi untuk mendapatkan mutu lingkungan hidup
yang baik, agar dapat dimanfaatkan secara optimal maka manusia diharuskan untuk
mampu memperkecil resiko kerusakan lingkungan.
Dengan
demikian, pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan agar manusia tetap
"survival". Hakekatnya manusia telah "survival" sejak awal
peradaban hingga kini, tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat
manusia akibat kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta
revolusi sibernitika, menghantarkan manusia untuk tetap mampu menggoreskan
sejarah kehidupan, akibat relasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan
hidupnya. Karena jika tidak mampu menghadapi berbagai tantangan yang muncul
dari permasalahan lingkungan, maka kemajuan yang telah dicapai terutama berkat
ke-magnitude-an teknologi akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
1.
Dampak Industri dan Teknologi terhadap
Lingkungan
Joseph Schumpeter (dalam Marchinelli
dan Smelser,1990 :14-20) mengisyaratkan tentang pentingnya inovasi dalam proses
pembangunan ekonomi di suatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan
baru dapat dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa.
Dari
berbagai tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya
dapat ditarik selalu benang merah yang dapat digunakan sebagai pegangan mengapa
manusia "survival" yaitu oleh karena teknologi.
Teknologi
memberikan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api,
industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia.. Teknologi juga mampu
menghasilkan sulfur dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buangan lain
yang mengancam kelangsungan hidup manusia akibat memanasnya bumi akibat efek "rumah
kaca".
Teknologi
yang diandalkan sebagai istrumen utama dalam "revolusi hijau" mampu
meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk
yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yang
sama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia dan
lingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupun
insektisida mampu memperkuat daya tahan hama tananam misalnya wereng dan kutu
loncat.
Teknologi
juga memberi rasa aman dan kenyamanan bagi manusia akibat mampu menyediakan
berbagai kebutuhan seperti tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es
dan AC), berbagai jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau obat anti
nyamuk yang praktis untuk disemprotkan, dan sebagainya. Serangkai dengan proses
tersebut, ternyata CFC (chlorofluorocarbon) dan tetra fluoro ethylene polymer
yang digunakan justru memiliki kontribusi bagi menipisnya lapisan ozone di
stratosfer.
Teknologi
memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara berkembang) untuk
memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa
negara dan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya
merusak hutan tropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan
beragam jenis fauna yang langka.
Terlepas
dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan
sektor industri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber
daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang
sedang berkembang seperti Gresik, Surabaya, Jakarta, Bandung Lhokseumawe,
Medan, dan sebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut
mengalami peningkatan suhu udara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan
walaupun di daerah tersebut tergolong berhawa sejuk dan tidak pesat
industrinya.
Berkaitan dengan
pernyataan tersebut, Amsyari (1996:104), mencatat kerusakan lingkungan akibat
industrialisasi di beberapa kota di Indonesia, yaitu:
-
Terjadinya penurunan kualitas air
permukaan di sekitar daerah-daerah industri.
-
Konsentrasi bahan pencemar yang
berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam,
pestisida, pcb, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota airnya.
-
Kelangkaan air tawar semakin terasa,
khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi
banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi
ekosistemnya yang telah rusak.
-
Temperatur udara maksimal dan minimal
sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti
Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius.
-
Terjadi peningkatan konsentrasi
pencemaran udara seperti CO, NO2r SO2, dan debu.
-
Sumber daya alam yang dimiliki bangsa
Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batu bara yang
diperkirakan akan habis pada tahun 2020.
-
Luas hutan Indonesia semakin sempit
akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana
kebakaran. Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin
menyempit dan mengalami pencemaran.
2.
Klasifikasi Pencemaran Lingkungan
Masalah
pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4
Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan
atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau
tidak dapat lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Dari
definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu :
sumber perubahan oleh kegiatan manusia atau proses alam, bentuk perubahannya
adalah berubahnya konsentrasi suatu bahan (hidup/mati) pada lingkungan, dan
merosotnya fungsi lingkungan dalam menunjang kehidupan.
Pencemaran
dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk menurut pola
pengelompokannya. Berkaitan dengan itu, Amsyari (1996: 102), mengelompokkan
pencemaran alas dasar : a) bahan pencemar yang menghasilkan bentuk pencemaran
biologis, kimiawi, fisik, dan budaya; b) pengelompokan menurut medium
lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan, dan
sosial; c) pengelompokan menurut sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam
bentuk primer dan sekunder.
Namun
apapun klasifikasi dari pencemaran lingkungan, pada dasarnya terletak pada
esensi kegiatan manusia yang mengakibatkan terjadinya kerusakan yang merugikan
masyarakat banyak dan lingkungan hidupnya.
C. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan
Kesehatan
Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan, pada pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan kesehatan adalah keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Adapun derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi
oleh 4 faktor, yaitu :
-
Faktor Lingkungan
-
Faktor Perilaku
-
Faktor Pelayanan Kesehatan
-
Faktor Bawaan (Keturunan)
Dari keempat faktor tersebut, faktor
lingkungan merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan
ketiga faktor yang lain.
Pada umumnya, bila manusia dan
lingkungannya berada dalam keadaan seimbang, maka keduanya berada dalam keadaan
sehat. Tetapi karena sesuatu sebab sehingga keseimbangan ini terganggu atau
mungkin tidak dapat tercapai, maka dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi
kesehatan.
Keseimbangan
tersebut sangat kompleks. Dari lingkungan alaminya manusia mengambil makanan
dan sumber daya lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan materinya, ke
lingkungan alami pula manusia membuang berbagai bahan buangan baik dari
badannya maupun dari proses produksinya.
Proses
pengambilan maupun pembuangan ini bila tidak terkendali, menimbulkan dampak
terhadap lingkungan yang dapat merugikan bagi kehidupan manusia itu sendiri,
antara lain gangguan kesehatan, gangguan kenyamanan, gangguan ekonomi dan
sosial. Dalam hal tersebut diatas yang perlu kita cermati adalah bahwa alam
mempunyai daya dukung dan daya tampung yang terbatas. Bila pengelolaannya tidak
seimbang maka kelestarian lingkungan juga akan terganggu.
Perilaku
manusia yang tidak sehat, akan memperburuk kondisi lingkungan dengan timbulnya
“man made breeding places” bagi kuman dan vektor penyakit maupun sumber
pencemar yang dapat memajani manusia.
Selaras
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bertambahnya jumlah penduduk
dengan mobilitas yang cepat, sangat berpengaruh terhadap kebutuhan manusia yang
tidak hanya kebutuhan dasar saja. Dari kebutuhan dasar yang berupa makanan dan
sandang sampai pada kebutuhan materi sebagai hasil proses industri, memunculkan
kecenderungan semakin meningkatnya tempat / kegiatan yang juga menghasilkan
limbah berupa bahan berbahaya dan beracun bagi kehidupan manusia maupun makhluk
hidup lainnya.
Kondisi
tersebut, bila tidak terkendali akan menimbulkan masalah kesehatan yang semakin
berat dan luas dengan semakin tingginya angka kesakitan, baik karena penyakit
infeksi maupun non infeksi sebagai akibat dari pencemaran lingkungan oleh
bahan-bahan yang tidak diinginkan.
Beberapa
tahun terakhir ini telah terjadi transisi epidemiologik, yaitu bergesernya pola
penyakit yang sebelumnya didominasi oleh penyakit infeksi, pada saat ini
penyakit non infeksi antara lain hipertensi, jantung, diabetes melitus,
gangguan fungsi ginjal, kanker, lebih menonjol dibanding tahun-tahun
sebelumnya.
D. Limbah dan Masalahnya
Karena
limbah dibuang ke lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata dan
menyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke
tempat lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari
hulu sampai jauh ke hilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara di
laut atau danau, seolah-olah laut atau danau menjadi tong sampah.
Limbah
bermasalah antara lain berasal dari kegiatan pemukiman, industri, pertanian,
pertambangan dan rekreasi.
Limbah
pemukiman selain berupa limbah padat yaitu sampah rumah tangga, juga berupa
tinja dan limbah cair yang semuanya dapat mencemari lingkungan perairan. Air
yang tercemar akan menjadi sumber penyakit menular.
Limbah
industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori atau
dengan sifat limbah B3.
Kegiatan
industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ternyata juga
menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan, tanah, dan udara.
Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang dipergunakan
untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air. Limbah padat akan
mencemari tanah dan sumber air tanah.
Limbah
gas yang dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimia berupa SOx,
NOx, CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx di udara
dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena
merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan.
Limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah dari
industri kimia. Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung berbagai
macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic)
sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia.
Limbah
pertanian yang paling utama ialah pestisida dan pupuk. Walau pestisida
digunakan untuk membunuh hama, ternyata karena pemakaiannya yang tidak sesuai
dengan peraturan keselamatan kerja, pestisida menjadi biosida–pembunuh
kehidupan. Pestisida yang berlebihan pemakaiannya, akhirnya mengkontaminasi
sayuran dan buah-buahan yang dapat menyebabkan keracunan konsumennya.
Pupuk
sering dipakai berlebihan, sisanya bila sampai di perairan dapat merangsang
pertumbuhan gulma penyebab timbulnya eutrofikasi. Pemakaian herbisida untuk
mengatasi eutrofikasi menjadi penyebab terkontaminasinya ikan, udang dan biota
air lainnya.
Pertambangan
memerlukan proses lanjutan pengolahan hasil tambang menjadi bahan yang
diinginkan. Misalnya proses di pertambangan emas, memerlukan bahan air raksa
atau mercury akan menghasilkan limbah logam berat cair penyebab keracunan
syaraf dan merupakan bahan teratogenik.
Kegiatan
sektor pariwisata menimbulkan limbah melalui sarana transportasi, dengan limbah
gas buang di udara, tumpahan minyak dan oli di laut sebagai limbah perahu atau
kapal motor di kawasan wisata bahari.
E. Toksikologi Lingkungan
Karena limbah industri pada umumnya bersifat
sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3), maka substansi atau zat beracun di
lingkungan yang sangat menjadi perhatian ialah yang bersumber pada kegiatan
manusia yang dibuang ke lingkungan sebagai limbah.
Karena
kajian toksikologi adalah bahan beracun, maka obyek toksikologi lingkungan
ialah limbah kimia yang beracun, umumnya termasuk kelompok limbah bahan
berbahaya dan beracun (hazardous waste and toxic chemical).
Sedangkan
yang dimaksud dengan toxicology lingkungan adalah pengetahuan yang mempelajari
efek substansi toksik (beracun) yang terdapat di lingkungan alam maupun
lingkungan binaan; mempelajari dampak atau resiko keberadaan substansi tersebut
terhadap makhluk hidup.
Didalam
Peraturan Pemerintah R.I. Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun, yang dimaksud dengan B3 dapat diartikan “Semua
bahan/senyawa baik padat, cair, ataupun gas yang mempunyai potensi merusak
terhadap kesehatan manusia serta lingkungan akibat sifat-sifat yang dimiliki
senyawa tersebut”.
Limbah B3 diidentifikasi sebagai bahan kimia
dengan satu atau lebih karakteristik :
-
mudah
meledak
-
mudah
terbakar
-
bersifat
reaktif
-
beracun
-
penyebab
infeksi
-
bersifat
korosif.
Toksikologi
lingkungan menjadi sangat penting, karena kenyataannya adalah bahwa yang paling
merasakan dampak suatu kegiatan adalah manusia, bagian dari makhluk hidup.
Kata
racun (toksin, toksikan) memang berhubungan dengan sistem kehidupan; sistem
biologi. Toksisitas suatu bahan kimia ditentukan dengan LD 50 atau LC 50, yaitu
dosis atau konsentrasi suatu bahan uji yang menimbulkan kematian 50 % hewan
uji.
Pada
manusia, sasaran toksikan pertama-tama adalah saluran pencernaan. Toksikan yang
masuk melalui makanan pertama kali di dalam mulut akan diabsorbsi atau
mengkontaminasi kelenjar ludah (saliva) yang kemudian dapat meracuni alat-alat
pencernaan, dan selanjutnya menyebar ke organ vital lainnya.
Limbah
B3 dari kegiatan industri yang terbuang ke lingkungan akhirnya akan berdampak
pada kesehatan manusia. Dampak itu dapat langsung dari sumber ke manusia,
misalnya meminum air yang terkontaminasi atau melalui rantai makanan, seperti
memakan ikan yang telah menggandakan (biological magnification) pencemar karena
memakan mangsa yang tercemar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun
yang menjadi kesimpulan dari penelitian diatas, sebagai berikut :
1.
Pembangunan yang mengandalkan
teknologi dan industri dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi
seringkali membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup manusia.
2.
Pencemaran lingkungan akan menyebabkan
menurunnya mutu lingkungan hidup, sehingga akan mengancam kelangsungan makhluk
hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia.
3.
Adanya pengertian dan persepsi yang
sama dalam memahami pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan hidup manusia
akan dapat mengendalikan tindakan dan perilaku manusia untuk lebih mementingkan
lingkungan hidup.
4.
Kemauan untuk saling menjaga
kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup merupakan itikad yang luhur dari
dalam diri manusia dalam memandang hakekat dirinya sebagai warga dunia.
B. Saran
Limbah industri harus ditangani dengan
baik dan serius oleh Pemerintah Daerah dimana wilayahnya terdapat industri.
Pemerintah harus mengawasi pembuangan limbah industri dengan sungguh-sungguh.
Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan
dengan melaksanakan teknologi bersih, memasang alat pencegahan pencemaran,
melakukan proses daur ulang dan yang terpenting harus melakukan pengolahan
limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran atau paling tidak
meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di samping itu
perlu dilakukan penelitian atau kajian-kajian lebih banyak lagi mengenai dampak
limbah industri yang spesifik (sesuai jenis industrinya) terhadap lingkungan
serta mencari metode atau teknologi tepat guna untuk pencegahan masalahnya.
Saran
yang dapat disampaikan untuk semua pihak agar proses industrialisasi tidak
lantas menjadi penyebab kerusakan lingkungan adalah :
1.
Sebaiknya dalam mengeksploitasi sumber
daya alam dan lingkungan yang dilakukan oleh dunia industri tidak hanya
bertujuan meningkatkan keuntungan ekonomi semata, harus pula diiringi dengan
kemauan untuk menyisihkan biaya bagi penelitian dan pemeliharaan lingkungan
hidup.
2.
Perlu dilibatkan masyarakat dalam
pengawasan pengolahan limbah buangan industri agar lebih intens dalam menjaga
mutu lingkungan hidup.
3.
Upaya untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan adalah upaya promotif, preventif, pengobatan dan
pemulihan; dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif. Filosofi
kesehatan yang menyatakan bahwa mencegah lebih mudah dan murah dari pengobatan,
sebaiknya dapat menjadi rujukan.
4.
Limbah B3 sebelum dibuang ke media
lingkungan seharusnya diolah / ditreatment lebih dulu.
5.
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai
peraturan yang berhubungan dengan masalah lingkungan hidup, antara lain yang
mengatur bahwa limbah yang dihasilkan oleh suatu kegiatan (misal : industri)
yang dibuang ke lingkungan (udara dan perairan) harus sesuai dengan baku mutu
lingkungan baik itu baku mutu untuk udara maupun baku mutu untuk air.
6.
Maksud dan tujuan peraturan tersebut
adalah sebagai upaya pencegahan agar daya dukung lingkungan dan daya tampung
lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia dapat dipertahankan. Biaya yang
dikeluarkan dari pada untuk pengobatan atau pemulihan kesehatan lebih baik
untuk menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan agar manusia dapat tetap
produktif dan dapat menikmati hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Slamet
Ryadi. Kesehatan Lingkungan. Karya
Anda. Surabaya, 1984.
Shalahuddin
Djalal Tanjung. Toksikologi Lingkungan.
Pusat Studi Lingkungan Hidup. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta, 2002.
Kamis, 24 April 2014
makalah bayi baru lahir (BBL)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bayi baru lahir (neonatus) adalah
suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37- 42 minggu,lahir
melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,
menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000
gram.
Neonatus (BBL) adalah masa kehidupan
pertama diluar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang
sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.Pada masa ini
terjadi pematangan organ hampir pada semua system.
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru
lahir selama satu jam pertama kelahiran (Saifuddin, 2002).sedangkan beberapa
pendapat mengatakan :
Bayi baru lahir normal adalah bayi
yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir
2500 gram sampai 4000 gram (Depkes RI, 2005).
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir
sampai usia 4 minggu. Lahirrnya biasanya dengan usia gestasi 38 – 42 minggu
(Dona L. Wong, 2003).
Neonatus (BBL) bukanlah miniature
orang dewasa,bahkan bukan pula miniature anak.Neonatus mengalami masa perubahan
dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan
diluar rahim yang serba mandiri.Masa perubahan yang paling besar terjadi selama
jam ke 24-72 pertama.Transisi ini hampir meliputi semua system organ tapi yang
terpenting bagi anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal dan
hepar.Maka dari itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang
untuk melakukan suatu anastesi terhadap neonates (BBL).
1.2. Rumusan masalah
1. Apa defenisi BBL?
2. Apa ciri-ciri BBL normal?
3. Apa bounding attachement BBL?
4. Apa saja tahapan BBL?
5. Apa saja perubahan-perubahan pada
BBL ?
6. Apa saja periode masa transisi pada
BBL ?
7. Bagaimana penatalaksanaan awal BBL
?
8. Bagaimana prinsip dasar penanganan
bayi baru lahir?
9. Apa saja adaptasi BBL
10. Bagaimana pemberian ASI pada BBL?
11. Apa saja kebutuhan BBL?
12.Apa saja kelainan- kelainan pada
BBl ?
13.Apa saja trauma pada BBL?
14. Apa pemeriksaan untuk BBL?
15. Apa saja pengobatan untuk BBL??
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui defenisi BBL
2. Untuk mengetahui ciri-ciri BBL
3. Untuk mengetahui tahapan BBL
4. Untuk mengetahui bounding
attachement BBL
5. Untuk mengetahui
perubahan-perubahan yang terjadi pada BBL
6. Untuk periode masa transisi pada
BBL
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan
awal BBL
9. Untuk mengetahui prinsip dasar penanganan
bayi baru lahir
10. Untuk mengetahui adaptasi BBL
11. Untuk mengetahui cara pemberian
ASI pada BBL
12. Untuk mengetahui kebutuhan BBL
13. Untuk mengetahui kelainan dan
trauma pada BBL
14. Untuk mengetahui pemeriksaan bagi
BBL
15. Utuk mengetahui pengobatan bagi
BBL
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Bayi baru lahir (neonatus) adalah
suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37-42 minggu,lahir
melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,
menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000
gram serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke
kehidupan ekstrauterin.
2.2. Ciri –Ciri Bayi Baru Lahir
a Lahir aterm antara 37-42 minggu
b.Berat badan 2500 – 4000 gram
c.Panjang lahir 48 – 52 cm
d. Lingkar dada 30 – 38 cm
e. Lingkar kepala 33 – 35 cm
f. Lingkar lengan 11-12
g. Frekuensi denyut jantung
120-160x/menit
h. Kulit kemerah- merahan dan licin
karena jaringan subkutan yang cukup.
I.Rambut lanugo tidak terlihat dan
rambut kepala biasanya telah sempurna
j. Kuku agak panjang dan lemas
k. Nilai APGAR >7
l. Gerakan aktif
m. Bayi lahir langsung menangis kuat
n.
Genetalia :
- Pada laki-laki kematangan ditandai
dengan testis yang berada pada skrotum dan penis yang berlubang.
- Pada perempuan kematangan ditandai
dengan vagina dan uterus yang berlubang ,serta labia mayora menutupi labia
minora.
o.
Refleks rooting ( mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada
pipi dan daerah mulut)sudah terbentuk dengan baik.
p. Refleks sucking sudah terbentuk
dengan baik.
q. Refleks grasping sudah baik
r. Refleks morro
s.
Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama
2.3. Tahapan Bayi Baru Lahir
a. Tahap I terjadi segera setelah
lahir ,selama menit –menit pertama kelahiran. Pada tahap ini digunakan system
scoring apgar untuk fisik dan scoring gray untuk interaksi bayi dan ibu.
b. Tahap II disebut tahap transisional
reaktivitas .Pada tahan II dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama terhadap
adannya perubahan perilaku.
c. Tahap III disebut tahap periodik,
pengkajian dilakukan setelah 24 jam pertama yang meliputi pemeriksaan seluruh
tubuh.
2.4.
Bounding Attachment
1. Suatu kondisi / tindakan agar terjadinya
hubungan positif antara bayi,ibu, ayah dan sibling serta keluarga yang lain
2. Bayi merasa dicintai,
diperhatikan,aman dan nyaman sehingga terbentuk sosial dan dapat bereksplorasi
yang merupakan awal pembentukan konsep diri
3. Jika gagal,gangguan perkembangan
tingkah laku (stereotipi) misalnya
menghisap jari, menyakiti diri, tidur dilantai atau ketakutan , apatis,
kemunduran kognitif/verbal
2.5. Perubahan-Perubahan yang terjadi
pada bayi baru lahir
1)
Perubahan pernafasan/pada sistem pernafasan
Selama dalam uterus, janin mendapat
oksigen dari pertukaran gas melalui placenta. Setelah bayi lahir harus melalui
paru-paru bayi pernafasan pertama pada BBL terjadi normal dalam waktu 30 detik.
Setelah kelahiran tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan lahir
pervagina mengakibatkan cairan paru-paru (pada bayi normal jumlahnya 80 – 100
ml). kehilangan 1/3 dari jumlah cairan tersebut sehingga cairan yang hilang ini
diganti dengan udara. Pernafasan pada neonatus terutama pernafasan diafragmatik
dan abdominal dan biasanya masih tidak teratur frekwensi dan dalamnya
pernafasan.
Bayi itu umumnya segera menangis
sekeluarnya dari jalan lahir. Sebagai sebab-sebab yang menimbulkan pernafasan
yang pertama, dikemukakan :
a. Rangsangan pada kulit bayi.
b.
Tekanan pada thorax sebelum bayi lahir.
c. Penimbunan CO2
Setelah anak lahir kadar CO2 dalam
darah anak naik dan ini merupakan rangsangan pernafasan.
d.
Kekurangan O2
e. Pernafasan intrautrin
Anak sudah mengadakan pergerakan
pernafasan dalam rahim, malahan sudah menangis dalam rahim. Pernafasan di luar
hanya merupakan lanjutan dari gerakan pernafasan di dalam rahim.
f. Pemeriksaan bayi
Kebanyakan anak akan mulai bernafas
dalam beberapa detik setelah lahir dan menangis dalam setengah menit.
2)
Perubahan metabolisme karbohidrat/glukosa
Fungsi otak memerlukan glukosa dalam
jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat
lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri.
Pada setiap bayi baru lahir glukosa
darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam).
Koreksi penurunan gula darah dapat
terjadi dengan 3 cara:
a)
Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk
menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
b)
Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenolisis).
c)
Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak
(glukoneogenesis).
3)
Perubahan suhu tubuh
Bayi baru lahir belum dapat mengatur
suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stres dengan adanya
perubahan-perubahan lingkungan.
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas
melalui:
a) Evaporasi :cairan menguap pada kulit yang
basah.
b) Konduksi :kehilangan panas oleh karena kulit bayi
berhubungan langsung dengan benda/alat yang suhunya lebih dingin.
c)
Konveksi :terjadi bila bayi
telanjang di ruang yang relatif dingin (25oC atau kurang)
d) Radiasi adalah kehilangan panas
karena tubuh bayi yang lebih panas menyentuh permukaan yang lebih dingin.
4. Perubahan pada sistem
kardiovaskuler
Pada sistem kardiovaskuler harus
terjadi 2 perubahan besar, yaitu:
a)
Penutupan foramen ovale atrium jantung.
b)
Penutupan duktus afteriosus antara arteri paru dan aorta.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan
dalam sistem pembuluh:
a. Pada saat tali pusat
dipotong, resistensi pembuluh darah meningkat dan tekanan atrium kanan menurun.
Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan
yang mengurangi volume dan selanjutnya tekanannya. Kedua kejadian ini membantu
darah dengan kandungan oksigen sedikit mengatur ke paru-paru untuk mengalami
proses oksigenasi ulang.
b. Pernafasan pertama
menurunkan resistensi pembuluh paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan.
Oksigen pada pernafasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbakarnya
sistem pembuluh baru. Dengan peningkatan tekanan pada atrium kiri foramen ovale
secara fungsi akan menutup.Perubahan sistem gastrointestinal, ginjal
5. Kemampuan bayi baru lahir cukup
bulan untuk menelan dan mencerna makanan masih terbatas, juga hubungan antara
osephagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada
bayi baru lahir dan bayi muda. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas kurang
dari 30 cc.
Faeces pertama bayi adalah hitam
kehijauan, tidak berbau, substansi yang kental disebut mekonium. Faeces ini
mengandung sejumlah cairan amnion, verniks, sekresi saluran pencernaan, empedu,
dan zat sisa dari jaringan tubuh. Pengeluaran ini akan berlangsung sampai hari
ke 2-3. pada hari ke 4-5 warna tinja menjadi coklat kehijauan.
Air kencing.
Bila kandung kencing belum kosong pada
waktu lahir, air kencing akan keluar dalam waktu 24 jam yang harus dicatat
adalah kencing pertama, frekuensi kencing berikutnya, serta warnanya bila tidak
kencing/menetes/perubahan warna kencing yang berlebihan.
6. Perubahan berat badan
Dalam hari-hari pertama berat badan
akan turun oleh karena pengeluaran (meconium, urine, keringat) dan masuknya
cairan belum mencukupi. Turunnya berat badan tidak lebih dari 10%. Berat badan
akan naik lagi pada hari ke 4 sampai hari ke 10. Cairan yang diberikan pada
hari 1 sebanyak 60 ml/kg BB setiap hari ditambah sehingga pada hari ke 14
dicapai 200 ml/kg BB sehari.
7. Sistem skeletal
Tulang-tulang neonatus lunak karena
tulang tersebut sebagian besar terdiri dari kartilago yang hanya mengandung
sejumlah kecil kalsium.
8. Sistem neoromuskular
Pada saat lahir otot bayi lambat dan
lentur, otot-otot tersebut memiliki tonus kemampuan untuk berkontraksi ketika
dirangsang, tetapi bayi kurang mempunyai kemampuan untuk mengontrolnya. Sistem
persarafan bayi cukup berkembang untuk bertahan hidup tetapi belum terintegrasi
secara sempurna.
2.6. Periode Masa Transisi pada
Bayi Baru Lahir
Setiap bayi baru lahir harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstrauterin. Proses
ini dapat berjalan lancar tetapi dapat juga terjadi berbagai hambatan, yang
bila tidak segera diatasi dapat berakibat fatal.
Terdapat tiga periode dalam masa
transisi bayi baru lahir:
1.
Periode reaktivitas I : (30 menit pertama setelah lahir)
Pada awal stadium ini aktivitas sistem
saraf simpatif menonjol, yang ditandai oleh:
Sistem kardiovaskuler
Detak jantung cepat tetapi tidak
teratur, suara jantung keras dan kuat.
Tali pusat masih berdenyut.
Warna kulit masih kebiru-biruan, yang
diselingi warna merah waktu menangis.
Traktur respiratorrus
Pernafasan cepat dan dangkal.
Terdapat ronchi dalam paru.
Terlihat nafas cuping hidung,
merintih dan terlihat penarikan pada dinding thorax.
Suhu tubuh
Suhu tubuh cepat turun.
Aktivitas
Mulai membuka mata dan melakukan
gerakan explorasi.
Tonus otot meningkat dengan gerakan yang makin mantap.
Ektrimitas atas dalam keadaan fleksi
erat dan extrimitas bawah dalam keadaan extensi.
Fungsi usus
Peristaltik usus semula tidak ada.
Meconium biasanya sudah keluar waktu lahir.
Menjelang akhir stadium ini aktivitas
sistem para simpatik juga aktif, yang ditandai dengan:
Detak jantung menjadi teratur dan
frekuensi menurun.
Tali pusat berhenti berdenyut.
Ujung extremitas kebiru-biruan.
Menghasilkan lendir encer dan jernih, sehingga perlu dihisap lagi.
Selanjutnya terjadi penurunan
aktivitas sistem saraf otonom baik yang simpatik maupun para simpatik hingga
kita harus hati-hati karena relatif bayi menjadi tidak peka terhadap rangsangan
dari luar maupun dari dalam.
Secara klinis akan terlihat:
Detak jantung menurun.
Frekuensi pernafasan menurun.
Suhu tubuh rendah.
Lendir mulut tidak ada.
Ronchi paru tidak ada.
Aktifitas otot dan tonus menurun.
Bayi tertidur.
Pada saat ini kita perlu berhati-hati
agar suhu tubuh tidak terus menurun.
2. Periode reaktifitas II (periode ini
berlangsung 2 sampai 5 jam)
Pada periode ini bayi terbangun dari
tidur yang nyenyak, sistem saraf otonom meningkat lagi. Periode ini ditandai
dengan:
Kegiatan sistem saraf para simpatik
dan simpatik bergantian secara teratur.
Bayi menjadi peka terhadap rangsangan
dari dalam maupun dari luar.
Pernafasan terlihat tidak teratur
kadang cepat dalam atau dangkal.
Detak jantung tidak teratur.
Reflek gag/gumoh aktif.
Periode ini berakhir ketika lendir pernafasan
berkurang.
3.
Periode III stabilisasi (periode ini berlangsung 12 sampai 24 jam)
Kedua pengkajian keadaan fisik tersebut untuk memastikan bayi dalam
keadaan normal/mengalami
penyimpangan.
2.7. Penatalaksanaan Awal Bayi Baru
Lahir
1.
mengeringkan dengan segera dan membungkus bayi dengan kain yang cukup
hangat untuk mencegah hipotermi
2.
Menghisap lendir untuk membersihkan jalan nafas sesuai kondisi dan
kebutuhan.
3.
Memotong dan mengikat tali
pusat, memberi ntiseptik sesuai ketentuan setempat.
4.
Bonding Attacment (kontak kulit dini) dan segera ditetekan pada ibunya.
5.
Menilai apgar menit pertama dan menit kelima
6.
Memberi identitas bayi: Pengecapan telapak kaki bayi dan ibu jari ibu,
pemasangan gelang nama sesuai ketentuan setempat
7.
Mengukur suhu, pernafasan, denyut nadi.
8.
Memandikan/membersihkan badan bayi, kalau suhu sudah stabil (bisa tunggu
sampai enam jam setelah lahir)
9.
Menetesi obat mata bayi untuk mencegah opthalmia – neonatorum.
10.
Pemeriksaan fisik dan antropometri
11.
Pemberian vitamin K oral/parenteral sesuai kebijakan setempat.
12.
Rooming in (rawat gabung): penuh atau partial
2.8. Prinsip Dasar Penanganan Bayi
baru lahir
1.
Tujuan: menjaga jalan napas,
mempertahankan suhu tubuh, cegah infeksi & identifikasi
2.
Prinsip dasar: penanganan faktor-faktor risiko kematian perinatal(
perdarahan, hipertensi kelahiran peterm,asfiksia dan hipotermi).
3. > 50% kematian by pd masa neonatal
mis krn hipotermi/ cold stress→hipoglikemi→ hipoksia→kerusakan otak/perdarahan
otak1) Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan segera menangis
spontan segera sesudah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis, penolong
segera membersihkan jalan nafas dengan cara:
a. .Meletakkan bayi pada posisi terlentang
di tempat yang keras dan hangat.
b.
.Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi
lurus dan kepala tidak menekuk, posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke
belakang.
c. Bersihkan hidung, mulut dan tenggorokan
bayi dengan jari tangan yang dibungkus dengan kassa steril.
d.
Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi
dengan kain kering dan kasar, dengan rangsangan ini biasanya bayi akan segera
menangis.
Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir akan menyebabkan kerusakan
otak.
Sangat penting membersihkan jalan
nafas, sehingga upaya bernafas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya
lendir ke paru-paru).
-Alat penghisap lendir mulut atau
penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya haris selalu
siap di tempat.
- Segera lakukan usaha penghisap mulut
dan hidung.
- Petugas harus memantau dan mencatat
usaha nafas yang pertama.
- Warna kulit, adanya cairan atau
mekanium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
Bantuan untuk memulai pernafasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan
ventilasi yang adekuat.
- Dokter atau tenaga medis lainnya
hendaknya melakukan pemompaan bila setelah 1 menit bayi tidak benafas.
2)
Penilaian bayi waktu lahir (assessmant at birth)
Keadaan umum bayi dimulai 1 menit
setelah lahir dengan penggunaan nilai APGAR. Penilaian ini perlu untuk
mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Setiap penilaian diberi
angka 0,1 dan 2 dari hasil penilaian tersebut apakah bayi normal (vigorous baby
= nilai apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nilai apgar 4-6) atau asfiksia
berat (nilai apgar 0-3). Bila nilai apgar dalam 2 menit belum mencpai nilai 7,
maka harus dilakukan tindakan resasitasi lebih lanjut. Oleh karena bila bayi
menderita asfiksia lebih dari 5 menit, kemungkinan terjadi gejala-gejala
neurologik lanjutan kemudian hari lebih besar. Berhubungan dengan itu, menurut
apgar dilakukan selain pada umur 1 menit juga pada umur 5 menit.
Nilai APGAR
|
0
|
1
|
2
|
|
|
Apperance
(Warna Kulit)
|
Pucat
|
Badan merah, ekstremitas biru
|
Seluruh tubuh kemerah-merahan
|
|
Pulse Rate
(Frek. Nadi)
|
Tidak ada
|
Kurang dari 100
|
Lebih dari 100
|
|
Grimance
(Reaksi Rangsangan)
|
Tidak ada
|
Sedikit gerakan mimik (grimance)
|
Batuk/bersih
|
|
Activity
(Tonus Otot)
|
Tidak ada
|
Ekstrimitas dalam sedikit flexi
|
Garakan aktif
|
|
Respiration
(Pernafasan)
|
Tidak ada
|
Lemah/tidak teratur
|
Baik/menangis
|
|
Jumlah
|
|||
3)
Memotong tali pusat
Pemotongan tali pusat menyebabkan
pemisahan fisik terakhir antara ibu dan bayi, tali pusat dipotong sebelum dan
sesudah plasenta lahir tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali apabila bayi tidak
menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan reusitasi.
Tali pusat diklem dengan klem steril
dengan jarak 3 cm dari tali pusat bayi lakukan pengarutan pada tali pusat dari
ke klem ke arah ibu, dan kemudian pasang klm kedua pada sisi ibu 2 cm dari klem
pertama, pegang tali pusat diantara kedua klem tersebut dengan tangan kiri
sedangkan tangan kanan memotong tali pusat diantara kedua klem dengan gunting
tali pusat steril, kemudian ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat
bayi dengan menggunakan benang steril atau penjepit tali pusat, lalu pengikat
kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi-sisi yang berlawanan
atau pengikatan dapat pula menggunakan klem tali pusat dari plastik luka tali
pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% serta dibaluk kassa steril.
Pembalut tersebut diganti setiap hari dan setiap tali pusat basah/kotor. Atau
juga bisa menggunakan triplel T (larutan berwarna biru) tanpa dibalut oleh kasa
steril. Tali pusat harus dipantau dari kemungkinan terjadinya perdarahan tali
pusat.
4)
Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu bayi lahir, bayi mampu
mengatur secara tetap suhu tubuhnya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk
membuatnya tetap hangat, bayi baru lahir harus dibungkus dengan kain hangat
karena suhu tubuuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang
hangat sampai tubuhnya stabil.
Mekanisme kehilangan panas:
a. Evaporasi adalah cara kehilangan panas
yang utama pada tubuh bayi.
b.
Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh
bayi dan permukaan yang dingin.
c. Konveksi adalah kehilangan panas pada
saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin.
d. Radiasi adalah kehilangan panas
yang terjadi pada saat bayi ditempatkan dekat benda-benda yang mempunyai
temperatur lebih rendah dari temperatur tubuh bayi.
Cara pencegahan kehilangan panas:
a. Keringkan bayi secara seksama.
b.
Selimut bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat.
c. Tutup bagian kepala bayi.
d.
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
e.
Jangan segera menimbang atau
memandikan bayi.
f. Tempatkan bayi di lingkungan yang
hangat.
5)
Memberikan vitamin K
Untuk mencegah perdarahan karena
defesiensi vitamin K maka setiap bayi yang baru lahir normal dan cukup bulan
perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi resiko
tingi diberi vitamin K parenferal dosis 0,5 – 1 mg (1 M).
6)
Memberi obat salep/tetes mata
Tetes mata/salep antibrotika yang
diberi dalam waktu 2 jam pertama setelah kelahiran. Obat yang diberikan berupa
tetes mata (larutan perat nitrat 1%) atau salep (salep mata eritromisin 0,5%)
salep/tetes mata yang diberikan dalam 1 garis lurus, mulai dari bagian mata
yang paling dekat dengan hidung bayi menuju bagian luar mata.
7)
Identifikasi bayi
Identifikasi byai segera lakukan
segera setelah bayi lahir dan ibu masih berdekatan dengan bayinya dikamar
bersalin. Tanda pengenal bayi bisa menggunakan cap jari atau telapak kaki.
Tanda pengenal bayi umumnya menggunakan secarik kertas putih atau berwarna
merah/biru tergantung jenis kelamin dan ditulis nama (bayi nyonya), tanggal
lahir, nomor bayi, unit. Setelah itu kertas dimasukkan dalam kantong plastik
dengan pita diikatkan pada pergelangan tangan ibu, pengikatan pita hanya dapat
dilepas atau digunting. Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan
mencantumkan nama, tanggal lahir, nomer identifikasi.
8)
Pemantauan bayi baru lahir
Tujuannya yaitu untuk mengetahui bayi
normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan
perhatian keluarga dan penolong persalinan, serta tindak lanjut petugas
kesehatan.
a. Dua jam pertama sesudah lahir, yang
dipantau:
- Kemampuan menghisap.
- Bayi tampak aktif atau lunglai.
- Bayi kemerahan atau biru.
b.
Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya, yang dipantau:
- Bayi kecil masa kehamilan atau kurang
bulan.
- Gangguan pernafasan.
2.9. Adaptasi Bayi Baru Lahir
1. Sistem Kardiovaskular
2. Sistem Pernapasan
3. Sistem Hematopoiesis
4. Sitem Gastrointestinal
5. Sistem Imunitas
6. Sistem Integumen
7. Sistem Termogenik
8. Sistem Reproduksi
9. Sistem Neuromuskular
2.10. Pemberian Asi
1. Bayi normal dapat disusui segera
setelah lahir dangan menghisap mencegah perdarahan, perangsangan pembentukan
ASI,terbina bonding
2. Ibu dijelaskan manfaat ASI termasuk
kolostrum
3. Kontra indikasi ASI : mamae
abses/ca, ibu sakit jantung berat/HIV/hevatitis dll
2.11.
Kebutuhan Bayi Baru Lahir
1.
Merawat tali pusat : sesudah /sebelum plac lepas tak masalah.
2.
Menilai APGAR menit 1,5,10. normal7-10, asfiksia ringan 4-6 ,berat <3
3.
Nutrisi: 12 jm I blm perlu ,ini untuk memungkinkan bayi istirahat dan
mengeluarkan lendir namun tergantung kebijakan masing-masing RS, saat ini bayi
disusui segera dengan ASI
4.
Stimulasi,melaui sentuhan/ belaian/ pandangan menyusui. Saat ini
stimulasi untuk merangsang pernafasan tak dianjurkan,kalau terpaksa isap lendir
5.
Identifikasi
6. Kebersihan
7.
Profilaksis: tetes mata, vit K
8.
Mempertahankan suhu
9. Antropometri
10.
Menentukan gestasi
11.
Pakaian dan selimut
12.
Posisi dan lingkungan: miring dengan kepala sedikit rendah, lingkungan
hangat /tenang
2.12. Kelainan-Kelainan Pada Bayi Baru
Lahir
Contoh kelainan-kelainan pada bayi
baru lahir yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
a. labioskisis dan labiopalatoskisis
b.
atresia esophagus
c. atresia rektil dan anus
d.
hirschprung
e. obstruksi billiaris
f. omfalokel
g.
meningokel,ensefalokel
h.
hidrosefalus
i. hipospadia
2.13.Trauma Pada Bayi Baru Lahir
Trauma pada bayi baru lahir adalah
cedera yang didapatkan saat persalinan .Trauma ini bisa disebabkan oleh
makrosomia,premature,chepalo pelvic disproportion(CPD),distosia,persalinan
lama,presentasi abnormal dan persalinan dengan tindakan (vacuum atau
forceps).Trauma atau cedera pada bayi baru lahir dapat dibedakan menjadi:
1.
Cedera kepala (caput suksedaneum,cepal hematoma,dan perdarahan intrakanial)
2.
Cedera leher dan bahu (fraktur klavikula dan brakial palsi)
3.
Cedera intraabdomen(perdarahan di hati ,limpa,atau kelenjar adrenal).
2.14. Pemeriksaan Pada Bayi Baru lahir
• LAB : Pada bayi lahir normal umumnya
tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium, namun kadang-kadang dengan riwayat
kehamilan dan kondisi tertentu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai
indikasi tertentu
2.15.Pengobatan Pada Bayi Baru Lahir
1. Vitamin K
2.
Tetes / zalf mata
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Bayi baru lahir (neonatus) adalah
suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan 38-40 minggu,lahir
melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,
menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000
gram.Pada bayi lahir normal umumnya tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium,
namun kadang-kadang dengan riwayat kehamilan dan kondisi tertentu perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi tertentu.
Obat profilaksis yang rutin diberikan
pada bayi baru lahir yaitu:
1. Vitamin K
2. Tetes / zalf mata
3.2.Saran
Jika dalam penulisan makalah ini terdapat
kekurangn dan kesalahan,kami mohon maaf.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Mansjoer,dkk.2000. Kapita selekta Kedokteran edisi III jilud 2.Jakarta.
MediaAesculapius
2. Abdul atif,1993.Penatalaksanaan Anastesi
pada Bedah Akut Bayi Baru Lahir.Jakarta.
3.
Warih BP,Abubakar M.1992.Fisiologi pada neonates.Surabaya.
4. http://sis-doank27.blogspot.com/2010/06/askep-bayi-baru-lahir-normal.html
Langganan:
Postingan (Atom)