Rabu, 24 April 2013

dasar dasar phiskolinguistik






BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
         Psikolinguistik adalah ilmu hibrida yakni  ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu: psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar-dasar prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”. Sementara itu, di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Kess, 1992): (1) tahap formatif, (2) tahap linguistik, (3) tahap kognitif, dan (4) tahap teori psikolinguistik, realita psikologis, dan ilmu kognitif.

          Pada pertengahan abad ke 20 John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridasi (penggabungan)nkedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedus disiplin ilmu ini. Pertemuan itu di lanjutkan pada tahun 1953 di Uniiversitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupunahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini (Osgood dan Sebeok, 1954). Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini kemudian mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti 

dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.

Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku chomsky, sytactic structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B>F Skinner (Chmsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini makin berkembang karena pandangan Chimsky tentang universal bahasa makin mengarah pada pemerolehan bahasa.

        Bilinguistik, yang merupakan ilmu hibrida antara biologi dan linguistik, bergerak lebih luas karena ilmu ini merujuk pada pengetahuan kebahasaan manusia yakni pengetahuan seperti apa yang dimiliki manusia sehingga dia dapat berbahasa, dari mana datangnya pengetahuan itu sudah ada sejak manusia dilahirkan atau diperoleh dari lingkungan setelah manusia dilahirkan, pengetahuan yang kita miliki parameter apa yang kita pakai untuk mengolah dan mencerna input yang masuk pada kita, peran otak manusia yang membedakannya dengan otak binatang, dan dan pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia (species specific) hanya manusialah yang dapat berbahasa.

1.1     Tujuan
        Dalam makalah ini penulis mengindetifikasi tentang dasar-dasar psikolinguistik.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Dasar dasar Psikolinguistik

        Secara etimologis, istilah Psikolinguistik berasal dari dua kata, yakni Psikologi dan Linguistik. Seperti kita ketahui kedua kata tersebut masing-masing merujuk pada nama sebuah disiplin ilmu. Secara umum, Psikologi sering didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dengan cara mengkaji hakikat stimulus, hakikat respon, dan hakikat proses‑proses pikiran sebelum stimulus atau respon itu terjadi. Pakar psikologi sekarang ini cenderung menganggap psikologi sebagai ilmu yang mengkaji proses berpikir manusia dan segala manifestasinya yang mengatur perilaku manusia itu. Tujuan mengkaji proses berpikir itu ialah untuk memahami, menjelaskan, dan meramalkan perilaku manusia.
        Linguistik secara umum dan luas merupakan satu ilmu yang mengkaji bahasa (Bloomfield, 1928:1). Bahasa dalam konteks linguistik dipandang sebagai sebuah sistem bunyi yang arbriter, konvensional, dan dipergunakan oleh manusia sebagai sarana komunikasi. Hal ini berarti bahwa linguistik secara umum tidak mengaitkan bahasa dengan fenomena lain. Bahasa dipandang sebagai bahasa yang memiliki struktur yang khas dan unik. Munculnya ilmu yang bernama psikolinguistik tidak luput dari perkembangan kajian linguistic
        Pada mulanya istilah yang digunakan untuk psikolinguistik adalah linguistic psychology (psikologi linguistik) dan ada pula yang menyebutnya sebagai psychology of language (psikologi bahasa). Kemudian sebagai hasil kerja sama yang lebih terarah dan sistematis, lahirlah satu ilmu baru yang kemudian disebut sebagai psikolinguistik (psycholinguistic).

Psikolinguistik merupakan ilmu yang menguraikan proses‑proses psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan kalimat dan memahami kalimat yang didengarnya waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Simanjuntak, 1987: 1). Aitchison (1984), membatasi psikolinguistik sebagai studi tentang bahasa dan pikiran. Psikolinguistik merupakan bidang studi yang menghubungkan psikologi dengan linguistik. Tujuan utama seorang psikolinguis ialah menemukan struktur dan proses yang melandasi kemampuan manusia untuk berbicara dan memahami bahasa. Psikolinguis tidak tertarik pada interaksi bahasa di antara para penutur bahasa. Yang mereka kerjakan terutama ialah menggali apa yang terjadi ketika individu yang berbahasa

2.2  CABANG-CABANG PSIKOLINGUISTIK
        Setelah kerja sama antara psikologi dan linguistik itu berlangsung beberapa waktu, terasa pula bahwa kedua disiplin itu tidaklah memadai lagi untuk melaksanakan tugas yang sangat berat untuk menjelaskan hakikat bahasa yang dicerminkan dari definisi‑definisi di atas. Bantuan dari ilmu‑ilmu lain diperlukan, termasuk bantuan ilmu‑ilmu antardisiplin yang telah ada lebih dulu seperti neurofisiologi, neuropsikologi, dan lain‑lain. Walaupun sekarang kita tetap menggunakan istilah psikolinguistik, hal itu tidaklah lagi bermakna bahwa hanya kedua disiplin psikologi dan linguistik saja yang diterapkan. Penemuan-penemuan antardisiplin lain pun telah dimanfaatkan juga. Bantuan yang dimaksudkan telah lama ada dan akan terus bertambah karena selain linguistik dan psikologi, banyak lagi disiplin lain yang juga mengkaji bahasa dengan cara dan teori tersendiri, misalnya, antropologi, sosiologi, falsafah, pendidikan, komunikasi, dan lain‑lain.
]

Disiplin psikolinguistik telah berkembang begitu pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin baru untuk memusatkan perhatian pada bidang‑bidang khusus tertentu yang memerlukan penelitian yang saksama. Subdisiplin psikolinguistik tampak seperti pada skema berikut ini.
·    Psikolinguistik Teoretis;
·    Psikolinguistik Perkembangan;
·    Psikolinguistik Sosial;
·    Psikolinguistik Pendidikan;
·    Neuropsikolinguistik;
·     Psikolinguistik Eksperimenta;
·     Psikolinguistik Terapan;

1.        Psikolinguistik Teoretis (Theorethycal Psycholinguistic)
        Psikolinguistik teoretis mengkaji tentang hal‑hal yang berkaitan dengan teori bahasa, misalnya tentang hakikat bahasa, ciri bahasa manusia, teori kompetensi dan performansi (Chomsky) atau teori langue dan parole (Saussure), dan sebagainya
2.        Psikolinguistik Perkembangan (Development Psycholinguistic)
Psikolinguistik perkembangan berbicara tentang pemerolehan bahasa, misalnya berbicara tentang teori pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama maupun bahasa kedua, peranti pemerolehan bahasa (language acquisition device), periode kritis pernerolehan bahasa, dan sebagainya.
3.    Psikolinguistik Sosial (Social Psycholinguistic)
Psikolinguistik sosial sering juga disebut sebagai psikososiolinguistik berbicara tentang aspek‑aspek sosial bahasa, misalnya, sikap bahasa, akulturasi budaya, kejut budaya, jarak sosial, periode kritis budaya, pajanan bahasa, pendidikan, lama pendidikan, dan sebagainya.
3.        Psikolinguistik Pendidikan (Educational
       Psycholinguistic)
Psikolinguistik pendidikan berbicara tentang aspek‑aspek pendidikan secara umum di sekolah, terutama mengenai peranan bahasa dalam pengajaran bahasa pada umumnya, khususnya dalam pengajaran membaca, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpidato, dan pengetahuan mengenai peningkatan berbahasa dalam memperbaiki proses penyampaian buah pikiran.
4.         Neuropsikolinguistik (Neuropsycholinguistics)
        Neuropsikolinguistik berbicara tentang hubungan bahasa dengan otak manusia. Misalnya, otak sebelah manakah yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa? Saraf‑saraf apa yang rusak apabila seserorang terkena afasia broca dan saraf manakah yang rusak apabila terkena afasia wernicke? Apakah bahasa itu memang dilateralisasikan? Kapan terjadi lateralisasi? Apakah periode kritis itu memang berkaitan dengan kelenturan saraf‑saraf otak?

4.3     PERKEMBANGAN DAN TOKOH-TOKOH PSIKOLINGUISTIK

        Sejak zaman Panini dan Socrates (Simanjuntak, 1987) kajian bahasa dan berbahasa banyak dilakukan oleh sarjana yang berminat dalam bidang ini. Pada masa lampau ada dua aliran yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi dan linguistik. Aliran yang pertama adalah aliran empirisme (filsafat postivistik) yang erat berhubungan dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme cenderung mengkaji bagian‑bagian yang membentuk suatu benda sampai ke bagian‑bagiannya yang paling kecil dan mendasarkan kajiannya pada faktor‑faktor luar yang langsung dapat diamati. Aliran ini sering disebut sebagai kajian yang bersifat atomistik dan sering dikaitkan dengan asosianisme dan positivism
        Aliran yang kedua adalah rasionalisme (filsafat kognitivisme) yang cenderung mengkaji prinsip‑prinsip akal yang bersifat batin dan faktor bakat atau pembawaan yang bertanggung jawab mengatur perilaku manusia. Aliran ini mengkaji akal sebagai satu kesatuan yang utuh dan menganggap batin atau akal ini sebagai faktor yang penting untuk diteliti guna memahami perilaku manusia. Oleh sebab itu, aliran ini dianggap bersifat holistik dan dikaitkan dengan nativisme, idealisme, dan mentalisme.

        Pada awal abad 20, Ferdinand de Saussure (1964) seorang ahli linguistik bangsa Swis telah berusaha menjelaskan apa sebenarnya bahasa itu dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Dia memperkenalkan konsep penting yang disebutnya sebagai langue (bahasa), parole (bertutur) dan langage (ucapan). De Saussure menegaskan bahwa objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan parole adalah objek kajian psikologi. Hal itu berarti bahwa apabila kita ingin mengkaji bahasa secara tuntas dan cermat, selayaknya kita menggabungkan kedua disiplin ilmu itu karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada pada bahasa itu bersifat psikologis

4.4     SUMBANGAN PSIKOLINGUISTIK PADA PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN BAHASA
        Istilah metode (method) dalam pembelajaran bahasa berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran secara teratur. Tidak ada satu bagian pun dari perencanaan pengajaran itu yang bersifat kontradiktif. Metode bersifat prosedural, dalam arti bahwa penerapan sebuah metode mesti dilakukan melalui langkah‑langkah yang teratur dan bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pembelajaran, penyajian materi dalam pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran
        Sebagai sebuah perencanaan yang prosedural, metode merupakan konkretisasi dari pendekatan yang lebih bersifat aksiomatis. iika pendekatan berisi teori hakikat bahasa dan teori hakikat belajar bahasa yang diyakini oleh para pengembang pendekatan tersebut, metode berisi hal‑hal yang sifatnya lebih operasional berikut (Syafilie, 1994: 19)
1.   Tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran.
2.   Model silabus yang dalam hal ini berisi pedoman seleksi dan gradasi materi.
3.   Tipe‑tipe kegiatan pembelajaran yang berisi macam‑macam tugas kegiatan latihan serta materi yang digunakan.
4.   Peranan pembelajar yang berisi (a) tipe‑tipe tugas yang disusun untuk siswa, (b) kualifikasi penguasaan bahasa siswa, (c) aturan pengelonpokan siswa yang direkomendasikan, (d) pengaruh pembelajaran bahasa dengan metode tersebut kepada proses pembelajaran yang lain, serta (e) pandangan pembelajar sebagai pemroses, penampil, inisiator, serta penganalisis problem.
5.   Peranan guru yang berisi (a) fungsi‑fungsi guru, (b) kualifikasi pengaruh guru terhadap proses belajar, (c) tingkatan peranan guru dalam menentukan materi, dan (d) tipe‑tipe interaksi antara pengajar dan pembelajar.
6.   Peranan materi pembelajaran yang meliputi (a) sejauh mana fungsi utama materi, (b) wujud bentuk materi, (C) hubungan materi dengan masukan yang lain (misalnya pajanan) , serta (d) asumsi‑asumsi yang disusun tentang pembelajar dan pengajar.

Terdapat tiga pandangan teoretis tentang bahasa dan penguasaan bahasa yang mendasari pengembangan metode pengajaran bahasa. (1) Teori Struktural yang memandang bahasa sebagai sistem yang memiliki unit gramatika: frasa, klausa, kalimat; unit pembentukan gramatika: pengimbuhan, pengulangan, dan penggabungan; serta unit kosakata yang meliputi nosi dan fungsinya. (2) Teori Fungsional yang memandang bahasa dari segi fungsinya: informasional, intelektual, emosional, moral, persuasi, dan sosial. (3) Pandangan interaksional memandang bahasa sebagai alat untuk merealisasikan hubungan interpersonal serta sebagai performansi transaksi sosial antarindividu dalam masyarakat. Tiap-tiap pandangan teoretis memiliki implikasi yang berbeda pada pengembangan metode pembelajaran bahasa. Misalnya, teori Struktural menghasilkan metode Tata Bahasa Terjemahan, Audiolingual, serta Respons Fisik Total
4.5     MANFAAT PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA
Studi Psikoinguistik telah berhasil mencerahkan hubungan bahasa dengan proses mental pada saat proses resepsi dan produksi bahasa terjadi. Proses resepsi meliputi aktivitas menyimak dan membaca; sedangkan proses produksi meliputi aktivitas berbicara dan menulis. Keempat aktivitas tersebut sering disebut empat keterampilan berbahasa. Manfaat berbagai temuan studi Psikolinguistik terhadap pembelajaran keempat aktivitas tersebut dikemukakan pada kegiatan belajar ini. Uraian ini didasarkan pada pendapat Sumadi (1995) . Secara praktis, manfaat itu dikaitkan dengan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia tahun 1994
a)     Teori Pemahaman
Ada dua pendekatan dalam pemahaman (comprehension) yaitu pendekatan sintaktik dan pendekatan semantik. Melalui pendekatan sintaktik, pemahaman tersebut dilakukan dengan pertama‑tama mendasarkan diri pada struktur kalimat. Pemahaman dilakukan dengan mengenali bunyi, kata, dan maujud yang terdapat dalam kalimat untuk menangkap makna pernyataan yang terkandung dalam kalimat tersebut. Pemahaman dengan pendekatan semantik berarti bahwa pemahaman tersebut dilakukan dengan memberikan penafsiran makna pernyataan kalimat yang diterimanya berdasarkan konteks, fakta, dan fungsi, baru kemudian mengidentifikasi bunyi, kata, dan konstituen yang mendukung penafsiran tersebut
b)     Teori Mendengarkan Selektif
Suatu fenomena yang merupakan penjelajahan khusus terhadap teori persepsi ujaran adalah cocktail party phenomenon (fenomena pesta minum) Dalam teori ini dibayangkan seseorang yang berbicara kepada orang lain dalam situasi pesta. yang sangat ramai, ternyata orang yang diajak bicara tersebut masih dapat memahami kalimat‑kalimat yang digunakan mitra bicaranya. Ini terjadi karena pendengar melakukan kegiatan mendengarkan selektif.
c)     Teori Penyangkalan
        Penyangkalan atau denial merupakan bentuk pernyataan khusus. Penyangkalan seperti subposisi dengan pembatalannya merupakan satu kesatuan. Penyangkalan membiarkan informasi lama dan menegaskan informasi baru. Misalnya, “Ingat, kemarin ketika saya berkata kepada Anda adalah John yang memukul Bill. Baiklah, saya salah.” Dalam kalimat yang kedua, terdapat pernyataan bahwa Adalah John yang memukul Bill tidak benar. Lalu apa yang ingin dibatalkan? Apakah John melakukan sesuatu, tetapi bukan memukul Bill? Apakah John memukul seseorang, tetapi bukan Bill? Apakah sesuatu terjadi, tetapi bukan pemukulan Bill oleh John? Dalam pernyataan itu penutur ingin menyatakan given information bahwa X memukul Bill adalah benar dan membatalkankan new information bahwa X adalah John
d)     Teori Ambiguitas
Pada dasarnya terdapat dua teori ambiguitas, yaitu teori garden path dan teori many meanings (Sumadi, 1994)
1.    Teori garden path menyatakan bahwa manusia tidak menganggap suatu kalimat sebagai ambigu karena hanya ada satu penafsiran terhadapnya. Sedangkan teori meanings menyatakan bahwa pendengar membuat dua atau lebih tafsiran yang berbeda untuk setiap kalimat ambigu dan segera memutuskannya mana yang benar berdasarkan konteks. Di samping itu, ada teori no meaning yang menyatakan bahwa pendengar mula‑mula tidak memberikan tafsiran apa‑apa terhadap kalimat, tetapi menunggu sampai konteks menentukan sendiri tafsiran makna yang tepat.
2.    Kedua teori tersebut, yaitu teori garden path dan teori many meanings selanjutnya bergabung menjadi teori mixed. Teori ini menyatakan (1) ketika pendengar menjumpai konstruksi yang ambigu, mereka memberikan penafsiran ganda
3.    dengan bantuan konteks, mereka memilih tafsiran yang paling tepat, (3) kalau keambiguan belum juga terpecahkan, mereka memilih untuk berpedoman pada satu tafsiran saja, dan (4) jika konteks yang lebih luas menolak tafsiran yang telah dipilih, mereka melihat kembali struktur lahirnya dan memberikan tafsiran baru







BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
        psikolinguistik adalah ilmu hibrida yakni  ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu: psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar-dasar prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”.

        Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku chomsky, sytactic structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B>F Skinner (Chmsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini makin berkembang karena pandangan Chimsky tentang universal bahasa makin mengarah pada pemerolehan bahasa.
        Linguistik secara umum dan luas merupakan satu ilmu yang mengkaji bahasa (Bloomfield, 1928:1). Bahasa dalam konteks linguistik dipandang sebagai sebuah sistem bunyi yang arbriter, konvensional, dan dipergunakan oleh manusia sebagai sarana komunikasi. Hal ini berarti bahwa linguistik secara umum tidak mengaitkan bahasa dengan fenomena lain. Bahasa dipandang sebagai bahasa yang memiliki struktur yang khas dan unik. Munculnya ilmu yang bernama psikolinguistik tidak luput dari perkembangan kajian linguistic




DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid, Fuad. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud.
Asher, James J. 1996. Learning Another Language Through Actions. Sky Oaks Productions, Inc.
Asher, James J. 1994. Brainswitching – Practical Applications of the right -left brain. Sky Oaks Productions, Inc.
Bialystok, Ellen. 1980. “A Theoretical Model of Second Language Learning” dalam Kenneth Croft (ed). Reading on English as a Second Language. Cambridge: Winthrop Publishers Inc.
Brumfit, Christopher. 1994. Communicative Methodology in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
Clarck, Herbert & Eve V. Clark. 1977. Psychology and Language: an Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.  Chomsky, Noam. 1957 a. Syntactic Structure. The Haque: Mouton.

Clark, H.H. dan Clark. 1977. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Dulay, Heidi, Marina Burt & Stephen D. Krashen. 1982. Language Two. Oxford: Oxford University Press.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar