Jumat, 26 Desember 2014

MAKALAH  PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR............................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................
BAB I  PENDAHULUAN....................................................................       
1.1  Latar Belakang.....................................................................
1.2  Tujuan ..................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................
2.1  Definisi Infeksi Nosokomial ...............................................
2.2  Penyebab Infeksi Nosokomial..............................................
2.3  Cara Penularan Infeksi Nosokomial.....................................
2.4  Pencegahan...........................................................................
2.5  Faktor Resiko “Healthcare-Associated Infections” (HAIs).
2.6  Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi................................
2.7  Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial.......
BAB III PENUTUP...............................................................................       
3.1  Kesimpulan...........................................................................
3.2  Saran.....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................







ii
 

 

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan karunianya penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini  yang berjudul PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL” Selawat beriring salam penulis kirimkan kepada junjungan Alam Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau sekalian.
Dalam penyelesaian penulisa makalah  ini, penulis mendapat bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya.
Segala usaha telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah  ini. Namun penulis menyadari bahwa dalam makalah   ini mungkin masih ditemukan kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan guna perbaikan di masa yang akan datang.

Meureudu,       Desember 2014
Penulis



Kelompok


BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
          Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Infeksi nosokomial itu sendiri dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh seseorang selama di rumah sakit.    
          Selama 10-20 tahun belakangan ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari masalah utama meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial dan di beberapa Negara, kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal akibat resistensi kuman, serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Karena itu di negara-negara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit.
Rumah sakit sebagai tempat pengobatan, juga merupakan sarana pelayanan kesehatan yang dapat menjadi sumber infeksi dimana orang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat. Infeksi nosokomial dapat terjadi pada penderita, tenaga kesehatan dan juga setiap orang yang datang ke rumah sakit. Infeksi yang ada di pusat pelayanan kesehatan ini dapat ditularkan atau diperoleh melalui petugas kesehatan, orang sakit, pengunjung yang berstatus karier atau karena kodisi rumah sakit.
Kerugian yang ditimbulkan akibat infeksi ini adalah lamanya rawat inap yang tentunya akan membutuhkan biaya yang lebih banyak dari perawatan normal bila tidak terkena infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat menyebabkan kematian bagi pasien.

Dalam Kepmenkes no. 129 tahun 2008 ditetapkan  suatu standar minimal pelayanan rumah sakit, termasuk didalamnya pelaporan kasus infeksi nosokomial untuk melihat sejauh mana rumah sakit melakukan pengendalian terhadap infeksi ini. Data infeksi nosokomial dari surveilans infeksi nosokomial di setiap rumah sakit dapat digunakan sebagai acuan pencegahan infeksi guna meningkatkan pelayanan medis bagi pasien (Kepmenkes, 2008).

1.2         Tujuan
1.        Untuk mengetahui Penyebab Infeksi Nosokomial
2.        Untuk mengetahui Cara Penularan Infeksi Nosokomial
3.        Untuk mengetahui Pencegahan
4.        Untuk mengetahui Faktor Resiko “Healthcare-Associated Infections”   (HAIs).
5.        Untuk mengetahui Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi
6.        Untuk mengetahui Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial


 BAB II
PEMBAHASAN



2.1     Definisi Infeksi Nosokomial
          Infeksi adalah proses dimana seseorang rentan (susceptible) terkena invasi agen patogen atau infeksius yang tumbuh, berkembang biak dan menyebabkan sakit. Yang dimaksud agen bisa berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur, dan parasit. Penyakit menular atau infeksius adalah penyakit tertentu yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
           Nosokomial berasal dari bahasa Yunani, dari kata nosos yang artinya penyakit dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk merawat/rumah sakit. Jadi, infeksi nososkomial dapat diartikan sebagai infeksi yang terjadi di rumah sakit. Infeksi Nosokomial adalah infeksi silang yang terjadi pada perawat atau pasien saat dilakukan perawatan di rumah sakit.
          Penderita yang sedang dalam proses asuhan perawatan di rumah sakit, baik dengan penyakit dasar tunggal maupun penderita dengan penyakit dasar lebih dari satu, secara umum keadaan umumnya tidak/kurang baik, sehingga daya tahan tubuh menurun. Hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi silang karena kuman-kuman, virus dan sebagainya akan masuk ke dalam tubuh penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan dengan mudah. Infeksi yang terjadi pada setiap penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan ini disebut infeksi nosokomial.

2.2     Penyebab Infeksi Nosokomial
Penyebab terjadinya infeksi nosokomial adalah :
1.      Suntikan yang tidak aman dan seringkali tidak perlu.
2.      Penggunaan alat medis tanpa ditunjang pelatihan maupun dukungan laboratorium.
3.      Standar dan praktek yang tidak memadai untuk pengoperasian bank darah dan pelayanan transfusi
4.      Penggunaan cairan infus yang terkontaminasi, khususnya di rumah sakit yang membuat cairan sendiri
5.      Meningkatnya resistensi terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik spektrum luas yang berlebih atau salah
6.      Berat penyakit yang diderita
7.      penderita lain, yang juga sedang dalam proses perawatan
8.      petugas pelaksana (dokter, perawat dan seterusnya)
9.      peralatan medis yang digunakan
10.  tempat (ruangan/bangsal/kamar) dimana penderita dirawat
11.  tempat/kamar dimana penderita menjalani tindakan medis akut seperti kamar operasi dan kamar bersalin
12.  makanan dan minuman yang disajikan
13.  lingkungan rumah sakit secara umum

2.3     Cara Penularan Infeksi Nosokomial

1. Penularan secara kontak
          Penularan ini dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan penjamu, misalnya person to person pada penularan infeksi virus hepatitis A secara fecal oral. Kontak tidak langsung terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh infeksi, misalnya kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme.



2. Penularan melalui Common Vehicle
          Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat menyebabkan penyakit pada lebih dari satu penjamu. Adapun jenis-jenis common vehicle adalah darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan dan sebagainya.

3. Penularan melalui udara dan inhalasi
 Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran pernafasan. Misalnya mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit yang terlepas  (staphylococcus) dan tuberculosis.

4. Penularan dengan perantara vektor
Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan secara eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme yang menempel pada tubuh vektor, misalnya shigella dan salmonella oleh lalat.

2.4     Pencegahan
          Terdapat beberapa prosedur dan tindakan pencegahan infeksi nosokomial. Tindakan ini merupakan seperangkat tindakan yang didesain untuk membantu meminimalkan resiko terpapar material infeksius seperti darah dan cairan tubuh lain dari pasien kepada tenaga kesehatan atau sebaliknya. Menurut Zarkasih, pencegahan infeksi didasarkan pada asumsi bahwa seluruh komponen darah dan cairan tubuh mempunyai potensi menimbulkan infeksi baik dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya. Kunci pencegahan infeksi pada fasilitas pelayanan kesehatan adalah mengikuti prinsip pemeliharaan hygene yang baik, kebersihan dan kesterilan dengan lima standar penerapan yaitu:
1.      Mencuci tangan untuk menghindari infeksi silang. Mencuci tangan merupakan metode yang paling efektif untuk mencegah infeksi nosokomial, efektif mengurangi perpindahan mikroorganisme karena bersentuhan
2.      Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh lain. Alat pelindung diri meliputi; pakaian khusus (apron), masker, sarung tangan, topi, pelindung mata dan hidung yang digunakan di rumah sakit dan bertujuan untuk mencegah penularan berbagai jenis mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya, misalnya melaui sel darah, cairan tubuh, terhirup, tertelan dan lain-lain.
3.      Manajemen alat tajam secara benar untuk menghindari resiko penularan penyakit melalui benda-benda tajam yang tercemar oleh produk darah pasien. Terakit dengan hal ini, tempat sampah khusus untuk alat tajam harus disediakan agar tidak menimbulkan injuri pada tenaga kesehatan maupun pasien.
4.      Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi instrumen dengan prinsip yang benar. Tindakan ini merupakan tiga proses untuk mengurangi resiko tranmisi infeksi dari instrumen dan alat lain pada klien dan tenaga kesehatan
5.      Menjaga sanitasi lingkungan secara benar. Sebagaiman diketahui aktivitas pelayanan kesehatan akan menghasilkan sampah rumah tangga, sampah medis dan sampah berbahaya, yang memerlukan manajemen yang baik untuk menjaga keamanan tenaga rumah sakit, pasien, pengunjung dan masyarat.

2.5     Faktor Resiko “Healthcare-Associated Infections” (HAIs).
a.       Umur : neonatus dan lansia lebih rentan.
b.      Status imun yang rendah/tergantung (imuno-kompromais) : penderita dengan penyakit kronik, penderita keganasan, obat-obat imunosupresan.
c.       Interupsi barier anatomis :
1)            Kateter urin : meningkat kejadian infeksi saluran kemih (ISK)
2)            Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi luka operasi (ILO) atau “Surgical Site Infection” (SSI).
3)            Intubasi penafasan : meningkatkan kejadian : “Hosptal Acquired Pneumonia” (HAP/VAP).
4)            Kanula vena dan arteri : menimbulkan infeksi luka infus (ILI), “Blood Stream  Infection” (BSI).
5)            Luka dan trauma
d.      Implantasi benda asing :
1)            “indwelling catheter”
2)            “surgical suture material”
3)            “cerebrospinal fluid shunts”
4)            “valvular/vascular prostheses”
e.       Perubahan mikroflora normal : pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana menyebabkan timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai antimikroba (Depertemen Keseatan, 2009)

2.6     Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi
          Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu, agen infeksi (patogenesis, virulesi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi faktor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan. (Depertemen Kesehatan, 2009).








Tabel .Pemilihan Alat Pelindung Diri

Jenis Pajanan
Contoh
Pilihan Alat Pelindung Diri
Resiko Redah :
·    Kontak dengan Kulit
·    Tidak terpajan darah langsung

·    Injeksi
·    Perawatan luka ringan

·    Sarung tangan esensial
Resiko Sedang :
Kemungkinana terpajan darah namun tidak ada cipratan

·    Pemeriksaan pelvis
·    Insersi IUD
·    Melepas IUD
·    Pemasangan kateter intra vena
·    Penanganan spesimen laboratorium
·    Perawatan luka berat
·    Ceceran darah

·    Sarung tangan
·    Mungkin perlu gaun pelindung atau Celemek
Resiko Tinggi :
·    Kemungkinan terpajan darah dan kemungkinan terciprat
·    Perdarahan massif

·    Tidakan bedah mayor
·    Bedah mulut
·    Persalinan pervagina

·    Sarung tangan
·    Celemek
·    Kacamata pelindung
·    Masker
Sumber : Depertemen Kesehatan, 2009


2.7     Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial
          Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain serta bertanggung jawab sebagai pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan. Tenaga kesehatan juga bertanggung jawab dalam mengunakan saran yang telah disediakan dengan baik dan benar serta memelihara sarana agar selalu siap pakai dan dapat dipakai selama mungkin.
Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi :
a.       Bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga kesalamatan kerja dilingkungan. wajib mematuhi intruksi yang dibeikan dalam rangka kesehatan dan keselamatan kerja, dan membantu mempertahankan lingkungan bersih dan aman.
b.      Mengetahui kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan infeksi, dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari.
c.       Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan resiko penularan infeksi, baik dari dirinya kepada pasien atau sebaliknya, sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung.
d.      Sebagai contoh misalnya, pasien penyakit kulit yang basah seperti eksim, bernanah, harus menutupi kelainan kulit tersebut dengan plester kedap air, bila tidak memungkinkan maka tenaga kesehatan tersebut sebaiknya tidak merawat pasien.
e.       Bagi tenaga kesehatan yang megidap HIV mempunyai kewajiban moral untuk memberi tahu atasannya tentang status serologi bila dalam pelaksanaan pekerjaan status serologi tersebut dapat menjadi resiko pada pasien, misalnya tenaga kesehatan dengan status HIV positif dan menderita eksim basah. (Depertemen Kesehatan, 2003).













BAB III
PENUTUP


3.1     Kesimpulan
1.      Setiap rumah sakit di Indonesia harus mempunyai tim pencegahan dan pengendalian infeksi.
2.      Tim pencegahan dan pengendalian infeksi harus bekerja dengan baik agar angka kasus infeksi nosokomial di Indonesia dapat menurun.
3.      Dengan adanya tim pencegahan dan pengendalian infeksi di setiap rumah sakit yang bekerja dengan baik, kasus infeksi nosokomial di Indonesia dapat terdata dengan tepat supaya mempermudah penanganan kasus infeksi nosokomial di rumah sakit.

3.2     Saran
          Infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial, maka dari itulah kita harus berhati-hati dalam pencegahan Infeksi.
Kami Selaku pembuat makalah ini menerima segala saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.









DAFTAR PUSTAKA

1.      Tietjen, L.,dkk (terj. Saifuddin, AB,dkk): Panduan Pencegahan Infeksi : Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas
2.      Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi di ICU, Dep.Kes.RI, Jakarta 2004
3.      Kumpulan Makalah Kursus Dasar : Pengendalian Infeksi Nosokomial, PERDALIN JAYA, Jakarta, Februari 2005
4.      Panduan Bagi Pengendalian Infeksi, www.ansellhealthcare.com, Ansell, 2002
5.      Australian Dendal Association, Systemic Operating Procedures, ADA,2003
6.      Larson, Elaine L,. RN, Phd, FAAN, CIC,. APIC Guidline for Handwashing and Hend Antiseptic in Healt Care Setting, Washington, 1995.
















1 komentar:

  1. FBS – Dapatkan Bonus Deposit Sekarang Juga, bergabung sekarang juga dengan kami
    trading forex http://fbsindonesia.co.id
    -----------------
    Kelebihan Broker Forex FBS
    1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
    2. SPREAD DIMULAI DARI 0 Dan
    3. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANK LOKAL Indonesia dan banyak lagi yang lainya

    Buka akun anda di http://fbsindonesia.co.id
    -----------------
    Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui

    Tlp : 085365566333
    BBM :d2e26405

    BalasHapus

Flickr Gallery