Minggu, 24 Januari 2016

makalah porifera

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Porifera adalah Phylum antara protozoa dan coelenterara yang menghubungkan dengan metazoan. Pofifera digolongkan dalam kelompok Parazoa. Filum Protozoa atau Filum protozoa yang bersel tunggal hewan yang menerima ditinggalkan salah satu alias ditinggalkan sel darah bersel admeasurement kecil bisa ditinggalkan menjadi jelas dengan mikroskop. Protozoa hidup dapat di membaptis atau anatomi aktif atau menambahkan basil sebagai parasit. Kegiatannya dapat ditinggalkan atau menyendiri atau kumpulan atau koloni. Contoh: amuba / amoeba.
Jenis-Jenis Porifera
Spikula tersusun dari zat kapur dan dari silikat, apakah Anda sudah mengamati dan membuktikan seperti pada kegiatan sebelumnya? Dengan dasar zat penyusun inilah jenis Porifera ini digolongkan. Beberapa kelas Porifera adalah sebagai berikut.
·                     Kelas Calcarea, golongan Porifera ini mempunyai spikula yang terbuat dari zat kapur. Umumnya hidup di air laut yang dangkal. Misalnya, Scypha gelatinosa, Grantia, Leucosolenia.
·                     Kelas Hexactinellida, golongan ini mempunyai spikula yang terbuat dari zat kersik/silikat. Hidupnya di laut yang dalam, misalnya Pheronema sp., Euplectella, Regadrella sp.
·                     Kelas Demospongiae, kelas ini mempunyai spikula yang terbuat dari zat kersik dan protein (spongin) atau hanya spongin saja. Tubuhnya lunak dan tidak mempunyai skeleton. Hidup di laut yang dangkal, mempunyai jumlah anggota yang paling banyak, misalnya Euspongia officinalis (spons mandi), Spongilla, Haliclona, Microciona, Corticium.

1.2        Rumusan Masalah
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan rumusan masalah yang akan dikaji yaitu:
1.      Bagaimana struktur tubuh porifera?
2.      Bagaimanakah proses pencernaan makanan, system eksresi, system reproduksi dan system pernafasan porifera?
3.      ciri-ciri porifera? 
4.       Klasifikasi porifera?
5.      Keuntungan dan kerugian porifera dalam kehidupan?





















BAB II
PEMBAHASAN

FILUM PORIFERA
2.1     Karakteristik Umum
Porifera (Latinporus=pori, fer=membawa), tubuhnya berpori, doploblastik, simentri radial, tersusun atas sel-sel yang berkerja secara mandiri (belum ada koordinasi antar sel yang satu dengan sel-sel lainnya). Fase dewasa bersifat sesil (menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan), dan berkoloni. Habitat umumnya air laut dan ada yang di air tawar (Famili Spongiliadae). Bentuk tubuh: kipas, jambangan bunga, batang globular, genta, terompet, dan lain-lain. Warna tubuh: kelabu, kuning, merah, biru, hitam, putih keruh, coklat, jingga (sering berubah tergantung empat sinar ). Mempunyai rongga sentral (spongocoel). Porifera  merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana. Porifera sudah terdapat pembagian tugas kehidupan (diferensiasi), hal ini mencirikan organisme tersebut mempunyai ingkat yang lebih tinggi dari pada Filum Protozoa. Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan.

2.2  Struktur Tubuh
Tubunya diplobalstik, tersusun atas :
1.    Lapisan luar (epidermis=epithelium dermal). Terdiri atas pinakosit=pinako-derma(berbentuk sel-sel polygonal yang merapat);
2.    Lapisan dalam, terdiri atas jajaran sel berleher (koanosit). Sel koanosit berfungsi sebagai organ respirasi dan mengatur pergerakan air. Diantara lapisan luar dan lapisan dalam terdapat meshopyl (mesoglea). Didalam mesoglea terdapat organel-organel:

a.       Gelatin protein matrik
b.      Amubosit (sifatnya moil/mengembara). Sel amubosit berfungsi untuk:
-                    Transportasi O2dan zat-zat makanan, ekresi, dan
-                    penghasil gelatin.
c.       Arkeosit merupakan sel amubosit yang tumpul dan dapat membentuk sel-sel reproduktif.
d.      Porosit/ miosit terletak disekitar pori dan berfungsi untuk menmbuka dan menutup pori.
e.       Skleroblast berfungsi membentuk spikula.
f.       Spikula merupakan unsur pembentuk tubuh.
 
Gambar 2.2 Struktur Tubuh Porifera (tipe Akson)

Struktur tubuh porifera kecuali berfori dengan macam-macam bentuk, dibagi atas tiga tipe yaitu:
1.      Ascon
 berbentuk seperti jambangan bunga yang merupakan tipe yang paling sederhana dapat dilihat suatu rongga sentral yang disebut Spongiocoel atau parangaster. Ujung rongga atas disebutOsculum. Pada dinding hewan ini terdapat lubang-lubang kecil yang disebut Porosofil atau pori yang disebut Ostium. Lubang itu merupakan pintu masuk aliran air yang menuju ke dalam rongga Paragester.
Dinding tubuh tersusun dua lapis yaitu
1. Lapis luar disebut lapisan epidermis atau epithelium dermal yang juga disebut pinacocy.
2.  Lapisan dalam terdiri atas jajaran sel-sel berleher yang disebut Choanocyt yang berbentuk botol yang memiliki flagellum. Diantara dua lapisan tersebut terdapat yang berbahan gelatin yaitu :
·         Amoebocyte yang berfungsi mengedarkan zat-zat makanan kesellainnya dan menghasilkan gelatin.
·         Porocyte (sel pori) atau myocyt yang berfungsi membuka dan menutup pori

2.      Sycon atau Scypha
Sycon ciliatum adalah spons calcarea, yang merupakan spons dengan kerangka kalsium. Hal ini kecil dibandingkan dengan spons lebih terkenal lainnya. Tumbuh sebagai bentuk tabung tunggal. Banyak kali itu akan cluster dengan orang lain sehingga terlihat seperti beberapa cabang. Ini adalah dengan semacam coklat atau abu-abu warna. Pada ujung tabung adalah oscula khas dikelilingi oleh mahkota seperti spikula. Mereka bisa tumbuh sampai 9 cm, tapi khas adalah 1-3 cm. Permukaan mereka tampak berbulu. Mereka mudah dikenali karena penampilannya yang unik mereka. Mereka ditemukan di zona Sublittoral dangkal ditemukan di landas kontinen.

3.      Rhagon
merupakantipesaluran air yang paling rumit. Air masuk melalui pori kemudian memasuki saluran radial yang  bercabang-cabang dan saling berhubungan. Sel-sel koanositter dapat pada rongga yang berbentuk bulat. Air kemudian keluar melalui oskulum. Contohnya pada Euspongia dan Spongila.
Tubuh Porifera tersusun dari banyak sel dansel-selnya ini meskipun sangat sederhana tetapi sudah memiliki tugas sendiri-sendiri, yaitu ada yang bertindak sebagai kulit, penangkap makanan, pengedar makanan, dan penyusun rangka. Susunan tubuhnya ada dua lapisan/diplobastik, yaitu sebagai berikut.
·         Lapisan luar, tersusun oleh sel-sel epidermis berbentuk pipih yang disebut pinakosit dan sebagai kulit luar.
·         Lapisan dalam yang tersusunolehsel-selleher/koanosit berbentuk seperti corong yang memiliki flagel, vakuola, dannukleus. Di antara kedua lapisan ini terdapat mesenkim/mesoglea yang berisibahan gelatin/jeli dan bersifat koloid yang terdapat sel-sel amoebosit bebas. Mesenkim ini berfungsi untuk mengedarkan zat-zat makanan kesel-sel lainnya dan zat sisa metabolism dari satu sel kesel lainnya. Terdapat juga rangka (spikulaatausporogin), yaitu merupakan duri-duri penguat dinding yang lunak dandapatt ersusundari zat kapur, zat kersik (silikat), atau protein. Jika Anda ingin mengamati bentuk spikula, Anda dapat mengambil sedikit bagian tubuh bunga karang, kemudian letakkan pada objek glass dengan menggunakan pinset, lalu tetesi air dan tutup dengan cover glass.

2.3       Proses Pencernaan Makanan
Porifera bersifat holozoik, dan saprozoik.  Partikel-partikel makanan menempel pada kolar. Pada saat itu mikrovili-mikrofili koanosit bertindak sebagai filter. Makanan yang telah disaring oleh filter tadi diolah di dalam vakuola makanan dengan bantuan enzym-enzym pencernaan (karbohidrase, protease, dan lipase). Vakuola tadi kemudian mengadakan gerakan siklosis (dalam rangka mengedarkan sari-sari makanan di dalam sel koanosit itu sendiri). Setelah itu zat-zat makanan akan diedarkan ke sel-sel tubuh secara difusi dan osmosis oleh amubosit.


2.4      Sistem Pernafasan
Alat pernafasan terdiri atas: (1) sel-sel pinakosit (bagian luar), dan koanosit (bagian dalam). Oksigen yang telah ditangkap oleh kedua jenis sel  tersebut diedarkan ke seluruh tubuh oleh sel-sel amubosit yang terdiri
           
2.5    Sistem  Ekskresi
            Zat-zat sampah sisa metabolisme diedarkan dari internal tubuhnya oleh amubosit.

2.6    Sistem Reproduksi
            Porifera ada yang bersifat monosious (hermafrodit) dan ada juga bersifat diosious. Yang berkembang biak dilakukan secara seksual dan aseksual.
1.      Perkembangan seksual
Perkembangbiakan secara seksual belum dilakukan dengan alat kelainan khusus. Baik ovum maupun spermatozoid berkembang dari sel-sel amubosit khusus yang disebut arkeosid. Ovum yang belum atau telah dibuahi oleh spermatozoid tetap tinggal didalam tubuh induknya (mesoglea). Setelah terjadi pembuahan, maka zygod akan mengadakan pembelahan berulang kali, akhirnya terbentuk larva berambut getar yang disebut amphiblastula, dan kemudian akan keluar dari dalam tubuhnya melalui oskulum. Setelah amphiblastula ini tiba di lingkungan eksternal, dengan rambut getarnya kemudian ia akan berenang-renang mencari lingkungan yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya (kaya dengan Odan zat-zat makanan). Larva ini kemudian akan berubah menjadi paranchymula. Bila telah menemukan tempat yang sesuai, maka ia akan melekatkan diri pada objek tertentu dan selanjutnya tumbuh menjadi Porifera baru.

2.      Non seksual
Perkembangbiakan secara non seksual dilakukan dengan cara
·          Membentuk tunas atau kuncup kearah luar yang kemudian memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru
·          Dengan membentuk kuncup kearah dalam (gemul = butir benih).
Cara ini terjadi sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan. Gemul dibentuk dari sel arkeosit, dikelilingi oleh dinding tebal dari kitin dan dipakai oleh spikula, serta di lengkapi oleh zat makanan. Cara reproduksi demikian umumnya ditemukan pada porifera yang hidup di air tawar.

2.7     Sistem Saluran Air
          Sistem saluran air dimulai pada pori dan diahiri pada lubang keluar utama yang disebut oskulum. Sebelum air dikeluarkan melalui oskulum, air yang berasal dari segala jurusan tubuh itu terlebih dahulu ditampung didalam rongga sentral (spongocoel)
            fungsi aliran ini adalah :
·          Sebagai sarana dalam penyelenggaraan pertukaran gas (partikel-partikel makaanan o2, codan zat-sebaliknya.
·          Sebagai sarana dalam pengeluaran benda-benda reproduktif dan penyebaran generasi. 
Sehung dengan aliran air ini, porifera dalam ukuran sedang (10 cm ), setiap harinya tidak kurang dari 2640 m3 air keluar masuk melalui tubuhnya. Pada leuconia (leucandra), bertipe leucon dengan tinggi 10 cm, diameter  1 cm, dengan jumlah flagel 2.250.000, ternyata dapat memompa air sebanyak 22,5 liter/hari, dan kecepatan air yang keluar dari oskulum sebesar 8,5 cm/detik.


2.8      Sistematika
Berdasarkan bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan Calcarea (Calcisspongiae).
A.                 Calcarea
Kerajaan     : Animalia
Filum            : Porifera
Kelas            : Calcarea
Calcarea merupakan spons yang hidup di laut. Spons ini memiki kerangka spikula dari zat kapur yang tidak terdeferensiasi menjadi megaskleres dan mikroskleres. Bentuk spons ini bervariasi dari bentuk yang menyerupai vas dengan simetri radial hingga bentuk bentuk koloni yang membentuk bangunan serupa anyaman dari pembuluh-pembuluh yang kecil hingga lembaran dan bahkan ada yang mencapai bentuk raksasa.

Sub kelas Calcaronea
Ciri khas dari sub kelas ini adalah larvanya yang berupa  larva amphibalstulae. Koanosit terletak pada posisi apical. Flagela dari tiap koanosit muncul dari nucleus. Spikula triradiate biasanya satu helai yang terpanjang dari yang lain . Struktur tipe saluran air yang ada pada sub kelas ini berupa tipe leuconoid yang berasal dari tipe syconoid.
1.         Ordo Leucosolenida
Tipe ini memiliki struktur Asconoid. Contoh Leucosolenia
2.     Ordo Sycettida
Tipe saluran air yang ada pada ordo ini ada yang berupa Syconoid atau Leuconoid. Contoh Sycon.
Sub Kelas Calcinea
Ciri khas yang ada sub kelas Calcinea adalah larvanya yang berupa parenchymula dan flagella dari koanosit muncul tersendiri dari nucleus koanosit yang menempati  dasar sel.Pada sebagian besar spesies triradiata , spikula memiliki ukuran yang sama. Bentuk Leuconoid yang ada pada sub kelas ini tidak berasal dari tipe syconoid tetapi langsung berupa anyaman dari asconoid.
1.     Ordo Clathrinida
Ciri khas dari ordo ini adalah tipe saluran airnya berupa asconoid yang secara permanen serta tidak memiliki membrane dermal atau korteks. Contoh Clathrina
2.     Ordo Leucettida
Ciri khas dari Ordo ini adalah tipe saluran air yang berupa Syconoid hingga Leuconoid dengan membrane dermal atau korteks yang jelas. Contoh Leucascus levcetta.
3.     Ordo Pharetronida
Ciri khas yang ada pada ordo ini adalah tipe saluran airnya yang berupa Leuconoid dan rangka tersusun dari  spikula quadriradiata yang disertai penguat calcareous. Contoh Petrobiona dan Minchinella.

B.                 Hexactinellida
Kerajaan     : Animalia
Filum            : Porifera
Kelas            : Hexactinellida (Schmidt, 1870)
Sub Kelas   : Hexasterophora dan Amphidiscophora
Order           : Amphidiscosida
Order           : Aulocalycoida, Hexactinosa dan Lychniscosa
Hexactinelida merupakan porifera yang tersebar luas pada semua lautan. Habitat utama dari porifera ini adalah pada lautan dalam. Ciri yang membedakan kelas ini dari kelas lain adalah kerangkanya yang disusun oleh spikula silikat. Kerangka spons pada kelas hexactinelida tidak memiliki jaringan spongin. Sel epithelium dermal dan koanosit terbatas pada bentuk-bentuk ruang yang tersembunyi.
a.     Sub Kelas Hexasterophora
Ciri khas yang ada pada subkelas ini adalah microscleres parenchimalnya berupa hexaster. Contoh Euplectella.



b.     Sub Kelas Amphidiscorpha
Ciri utama pada sub kelas ini adalah microscleres parenchimalnya berupa Amphidics. Contoh Hyalonema.

C.                Demospongiae
Kingdom     : Animalia
Filum            : Porifera
Kelas            : Demospongiae
Ordo            : Halichondrida
Porifera yang termasuk dalam kelas Demospongia memiliki kerangka berupa empat spikula silica atau dari serabut spongin atau keduanya.  Beberapa bentuk primitive tidak memiliki rangka. Tipe saluran air yang ada pada spons ini berupa Leuconoid. Porifera yang masuk dalam kelompok Demospongia memiliki penyebaran yang paling luas dari daerah tidal hingga kedalaman abvasal. Beberapa bentuk memiliki habitat di air tawar.
a.         Sub kelas Tetractinomorpha
Ciri Utama dari sub kelas Tetractinomorpha adalah memiliki megaskleres tetraxonid dan monoxonid, mikroskleres asterose dan kadang-kadang tidak memiliki serat spongin. Tubuh spons ini memiliki bentuk  radial dan perkembangan cortical  axial mengalami kemajuan. Kelompok ini mencakup spesies ovipar dengan stereogtastrula. Famili yang primitive menetaskan amphiblastulae.
1.         Ordo Homosclerophorida
Porifera dalam ordo ini merupakan Tetractinomorpha primitive  yang memiliki struktur Leuconoid homogen dengan sedikit dareah terdeferensiasi . Larva menetas berupa amphiblastula. Spikulanya berupa teract berukuran kecil. Beberapa  spesies tidak memiliki rangka seperti pada Oscarella.



2.       Ordo Choristida
Porifera yang termasuk ordo Choristida paling tidak memiliki beberapa megaskleres tetraxons, biasanya berupa triaenes, mikroskleres berupa aster, sterptaster atau sigmasprae yang khas. Bentuk tubuhnya seringkali  rumit. Spons ini memiki korteks yang dapat dibedakan secara jelas dan seringkali tersusun atasnlapisan fibrosa di sebelah dalam dan lapisan gelatin di bagian luar.  Contoh Geodia dan Aciculites.
b.      Sub Kelas Ceractinomorpha
Ciri utama yang menjadi dasar pengklasifikasian dari sub kelas Ceractinomorpha adalah larvanya yang berupa stereogastrula, megaskleresnya berupa monaxonid, dan mikrosklesesnya berupa sigmoid atau chalete. Aster tidak pernah ditemukan. Pada rangkanya juga sering ditemukan sponging B tetapi dalam jumlah yang bervariasi.
1.     Ordo Halichondrida
Porifera yang ada dalam ordo Halichomonacndrida memiliki Kerangka megaskleres berupa monactinal dan atau diactinal serta tidak memiliki microskleres. Contoh Halichondrida, Hymeniacidondan, Ciocalypta.

2.     Ordo Poecilosclerida
Porifera yang masuk dalam ordo ini memiliki rangka yang selalu mengandung megaskleres choanosomal dan dermal.  ContohCoelosphoera dan Myxilla.

3.     Ordo Haplosclerida
Porifera ini kadang-kadang memiliki rangka silikat yang jika ada terbuat dari kategori tunggal dari megaskleres yang terletak pada serat spongin atau bergabung dalam suatu anyaman yang diikat dengan perekat spongin. Contoh Haliclona,. Megaskleresnya  berupa diactinal dan kadang-kadang berupa monactinal yang sedikit bervariasi dalam hal ukuran. Jika ada, mikroskleresnya berupa Chelate, taxiform, sigmoid atau raphdes.

Beberapa genus seperti Dactylia tidak memiliki spikula dan mempunyai rangka dari serat sponin. Rangka dermal berspikula tidak pernah ada . Dermal yang terspesialisasi hanya terlihat pada Callyspongiidae dimana suatu jaringan yang kompleks dari serat spongin bercabang-cabang menembus lapisan dermal. Contoh Callyspongia
4.     Ordo Dictyoceratida
Porifera  yang masuk dalam ordo Dictyoceratida tidak meiliki spikula. Rangka sepenuhnya tersusun dari suatu anyaman  dari serat spongin yang bisa menyertakan partikel lain seperti pasir,kerang ,spikula atau spons lain. Lapisan dermal sering diperkuat oleh spongin A

No
Kelas
Ordo
Spesies
1
Calcarea (calcipsongiae) hidup di laut (pantai dangkal), bentuk tubuh sederhana, kerangka tubuh tersusun atas CaCO3, koanositnya.
1.      Asconosa (tipe askon yang kemudia berubah menjadi tipe rhagon/leucon
Leucosolenia
2.      Syconosa (tipe sikon, tetapi kemudian berubah menjadi tipe rhagon/leucon.
Scypha
2
Hexactinellida (hyalospongiae) hidup dilaut dalam, kerangka tubuhnya tersusun atas bahan kersik/silikat (H3S13O7, spikula berduri 6 (heksanon), memiliki saluran air sederhana.
1.      Hexasterophora (spikulanya kebanyakan berbentuk bintang/ astrose)
Euplectella
2.       
3.      Amphidiscophora (spikula berbentuk amphidiskus)
Hyalonema
3
Demospongiae
Umumnya hidup di laut, beberapa spesies hidup diair tawar. Pada umum nya tidak mempunyai rangka dan kalaun ada rangka terbuat dari kersik, spongin atau campuran keduanya
1.      Carnosa
Rangka tubuh tersusun atas bahan organik  yang berbentuk bubur atau koloidal, kadang-kadang ditemukan spikula kecil
Chondrosia
2.      Choristida
Rangka tersusun atas spikulaa-spikula yang berjajar empat, mencuat dari suatu titiksentral
Geodia
3.      Epipolasida
Bentuknya sperikal, spikula monakson serta mencuat menjari dari daerah sentral tubuhnya
tethya
4.      Hadromerina
Spikula berbentuk seperti pines
Cliona
5.      Halichondaria
Spikula berujung dua atau berbentuk seperti bulu
Halichondaria
6.      Poeciloclerina
Rangka tubuh tersusun atas berbagai bentuk spikula dan kadang-kadang spongin
Microciona
7.      Haplosclerina
Kerangka fibrosa
Haliclona
8.      Keratosa
Tidak berspikula, berangka spongin
Spongia (alat penggosok pada waktu mandi)

         Berdasarkan tempat proses terjadinya pengambilan zat-zat makanan atau sistem saluran air, Porifera dibedakan menjadi tiga buah tipe,yaitu:
No
Tipe
Spesies
1
Ascon

Merupakan tipe yang paling sederhana, proses pengambilan zat-zat makanan terjadi di dalam spongocoel
Leucosolenia
2
Sycon

Proses pengambilan makanan terjadi  di dalam rongga berflagel
Scypha
3
Rhagon

Proses pengambilan makanan terjadi  di kamar (ruang) kecil yang berflagel yang terdapat dibagian tengah saluran. Flagel tersebut berasal dari koanosit-koanosit yang melapisi dinding kamar/ruang tersebut.
Spongia



3.9      Keuntungan dan kerugian porifera dalam kehidupan?
·          Sebagai makanan hewan laut lainnya
·          Sebagai sarana kamuflase bagi beberapa hewan laut
·          Sebagai hiasan akuarium
·          Sebagai alat penggosok untuk mandi dan mencuci jenis hippospongia
·          Porifera yang dijadikan obat kontrasepsi (KB)
·          Sebagai obat penyakit kanker dan penyakit lainnya
·          Sebagai campuran bahan industri (kosmetik)





















BAB III
PENUTUP

3.1        Kesimpulan
Asal usul hewan porifera mengisyaratkan hewan ini merupakan turunan dari koloni protozoa jenis ‘choanoflagellata’. ‘Hewan spons’ itulah sebutan untuk filum porifera, disebabkan seluruh permukaan tubuh hewan ini lobang-lubang kecil (pori). Porifera merupakan hewan yang paling sederhana dari organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. species yang hidup di air tawar, umumnya hewan ini sebagai bentik di perairan.
Porifera bereproduksi melalui dua cara, yaitu secara generatif ataupun secara vegetatif. Reproduksi generatif, yaitu dengan sel-sel kelamin yang dihasilkan oleh sel amoeboid. Porifera termasuk hewan monoesius atau hermafrodit karena dalam satu tubuh bisa menghasilkan dua sel kelamin sekaligus. Reproduksi vegetatif dengan pembentukan tunas ataupun kuncup. Ketika kuncup atau tunas-tunas tersebut lepas akan tumbuh menjadi individu baru. Apabila Porifera berada dalam lingkungan yang kering, maka akan membentuk gemmule atau kuncup dalam yang nantinya juga bisa tumbuh menjadi individu baru.
Tubuh Porifera yang sudah mati dapat dimanfaatkan sebagai penggosok ketika mandi ataupun mencuci. Selain itu, dapat juga dimanfaatkan sebagai hiasan yang ada pada akuarium.

3.2  Saran
Dapat di sadari makalah yang tersusun ini masih sangat banyak kekurangan dan masih jauh pula dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran, untuk lebih baik makalah yang disusun ini.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim A. 2014. file:///E:/filum-porifera-hewan-berpori-pori.html Diakses tanggal 1 Maret 2014
Anoim E. http://www.psychologymania.com/2013/09/peranan-penting-porifera-dalam-kehidupan.html
Anonim F. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2012/12/sistem-pernapasan-pada-porifera.html#ixzz2uOGMpu6E
Asrori, Muhammad. 2005. Perkembangan Peserta Didik. Malang: Wineka Media
Demospongiae. 2014. file:///E:/Demospongiae.htm Diakses tanggal 1 Maret 2014
Hibberd, Ty. Moore, Kirriliy. 2009. HIMI Benthic Invertebrate Field Guide. Australian Antartic Division. Kingston
Kastawi, Yusuf dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Malang :JICA Experts CPIU
Rusyana, Adun.  2011. Zoologi Invertebrata. Penerbit ALFABETA.  Bandung
Soemadji. 2001. Zoologi. Pusat Penelitian Universitas Terbuka . Jakarta
Sunarto dan B. Agung Hartono. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta







KATA PENGANTAR


            Puji syukur kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan karunianya penulis telah dapat menyelesaikan Makalah ini  yang berjudul PORIFERA` Selawat beriring salam penulis kirimkan kepada junjungan Alam Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau sekalian.

Dalam penyelesaian penulisan Makalah  ini, penulis mendapat bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya.

Segala usaha telah dilakukan untuk menyempurnakan Makalah  ini. Namun penulis menyadari bahwa dalam Makalah  ini mungkin masih ditemukan kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan guna perbaikan di masa yang akan datang.



Meureudu, 4  Desember  2015
Penulis,


Kelompok I




i
 
 


PORIFERA





MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi mata kuliah Parasitologi
Yang diasuh oleh  Fadliyani, M.Pd

DI SUSUN
OLEH :
KELOMPOK I
RISKA DESIANA
CUT
JULIATI


http://farm2.staticflickr.com/1403/877535793_f75a0abc82.jpg
 











YAYASAN PEMBANGUNAN KAMPUS JABAL GHAFUR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
KAMPUS B MEUREUDU
                                            TAHUN 2015           


   
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................... ........ 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ ........ 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ ........ 3
2.1 Karakteristik Umum............................................................................ ........ 3
2.2 Struktur Tubuh.................................................................................... ........ 3
2.3 Proses Pencernaan Makanan................................................................ ........ 6
2.4 Sistem Pernafasan................................................................................ ........ 7
2.5 Sistem  Ekskresi................................................................................... ........ 7
2.6 Sistem Reproduksi............................................................................... ........ 7
2.7 Sistem Saluran Air............................................................................... ........ 8
2.8 Sistematika.......................................................................................... ........ 8
2.9 Keuntungan dan kerugian porifera dalam kehidupan......................... ........ 16
BAB III PENUTUP......................................................................................... ........ 17
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... ........ 17
3.2 Saran.................................................................................................... ........ 17
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 18

ii
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Flickr Gallery